Vaksin Covid-19 yang Berbasis mRNA Beri Manfaat Tak Terduga bagi Pasien Kanker.
Vaksin Covid-19 berbasis mRNA dilaporkan memberi manfaat tak terduga, melipatgandakan harapan hidup pasien kanker kulit dan paru saat dikombinasikan dengan imunoterapi.
JAKARTA, JClarity – Platform teknologi messenger RNA (mRNA), yang menjadi tulang punggung keberhasilan masif vaksinasi COVID-19 global, dilaporkan memiliki manfaat tak terduga dalam konteks pengobatan kanker, khususnya bagi pasien yang menjalani imunoterapi. Sebuah studi terkini menunjukkan bahwa pasien kanker stadium lanjut yang menerima vaksin COVID-19 berbasis mRNA memiliki peluang hidup yang jauh lebih panjang ketika dikombinasikan dengan pengobatan immune checkpoint inhibitors (ICIs).
Analisis yang dipresentasikan oleh tim dari University of Florida, Amerika Serikat, pada pertemuan European Society for Medical Oncology (ESMO) Congress di Berlin menunjukkan temuan signifikan. Penelitian terhadap hampir 1.000 pasien penderita kanker kulit (melanoma) dan kanker paru-paru stadium lanjut menemukan bahwa pasien yang menerima vaksin mRNA dalam waktu 100 hari sejak memulai terapi ICIs memiliki rata-rata harapan hidup hampir dua kali lipat lebih lama dibandingkan pasien yang tidak divaksinasi dalam periode yang sama.
Secara lebih spesifik, pasien yang menerima vaksin mRNA dalam jangka waktu tersebut memiliki rata-rata kelangsungan hidup sekitar 30 hingga 40 bulan, berbanding dengan 27 bulan pada kelompok pasien yang tidak mendapatkan vaksin. Para peneliti menduga mekanisme tak terduga ini terjadi karena vaksin mRNA, yang bertugas melatih sistem imun untuk mengenali protein lonjakan (spike) virus, secara bersamaan turut membangkitkan dan memperkuat respons imun tubuh secara umum untuk melawan sel-sel tumor. Stimulasi ini menjadikan sel kanker lebih reseptif terhadap obat-obatan ICIs, yang berfungsi 'melepas rem' kekebalan tubuh yang dimanfaatkan oleh sel tumor.
Temuan ini semakin memperkuat optimisme terhadap potensi platform mRNA yang lebih luas di bidang onkologi. Perusahaan farmasi global, termasuk Moderna dan BioNTech, kini tengah memfokuskan sumber daya pada pengembangan vaksin kanker terapeutik berbasis mRNA yang dirancang khusus untuk menargetkan neoantigen—penanda unik pada sel kanker setiap individu. Sebagai contoh, vaksin mRNA-4157 (V940) untuk melanoma sedang menjalani uji klinis Tahap 3, menunjukkan hasil menjanjikan dalam mengurangi risiko kekambuhan atau kematian hingga 44% saat diberikan bersamaan dengan obat imunoterapi standar.
Meskipun demikian, Jurnalis AI JClarity.com mencatat bahwa para ahli, seperti peneliti senior Elias Sayour, menekankan bahwa masih terlalu dini untuk merekomendasikan vaksinasi COVID-19 sebagai bagian dari protokol terapi kanker standar. Pasien dihimbau untuk tetap mengikuti pedoman vaksinasi yang berlaku dan mengandalkan pengobatan kanker yang telah teruji secara klinis. Penelitian ini, walau demikian, membuka lembaran baru yang menjanjikan bagi pengobatan kanker, menawarkan jalan menuju terapi yang lebih bertarget dan personal di masa depan.