Sains

Bedah Gen Pakai AI, Peneliti Ungkap Biang Kerok Long Covid

Peneliti Australia menggunakan AI untuk membedah data genomik, mengungkap 32 gen penyebab Long Covid, termasuk varian FOXP4, membuka jalan bagi terapi baru.

Jakarta · Saturday, 20 December 2025 16:00 WITA · Dibaca: 38
Bedah Gen Pakai AI, Peneliti Ungkap Biang Kerok Long Covid

Jakarta, JClarity – Sebuah terobosan signifikan dalam penelitian kesehatan global baru-baru ini terjadi setelah tim ilmuwan dari Australia berhasil mengidentifikasi akar genetik yang menyebabkan sindrom Long Covid. Menggunakan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) untuk menganalisis data genomik berskala besar, para peneliti berhasil membedah mekanisme molekuler yang membuat gejala pasca-infeksi Covid-19 bertahan lama di tubuh pasien.

Penelitian ambisius ini dipimpin oleh Sindy Pinero, seorang kandidat PhD dalam bioinformatika, dan Profesor Thuc Duy Le dari University of South Australia. Mereka menyatukan dan menganalisis data genetik serta molekuler yang sangat kompleks dari lebih dari 100 studi internasional, yang kemudian diolah menggunakan metode komputasi canggih berbasis AI. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi hubungan sebab-akibat yang tidak terlihat dalam uji klinis kecil.

Hasil dari “operasi gen” digital ini mengungkap 32 gen yang meningkatkan risiko seseorang menderita Long Covid. Dari puluhan gen tersebut, temuan paling menonjol tertuju pada varian gen **FOXP4**. Gen ini diketahui memiliki peran krusial dalam fungsi paru-paru dan regulasi sistem kekebalan tubuh, dan variannya diduga kuat menjadi penyebab individu lebih rentan terhadap gejala pernapasan yang berkepanjangan. Selain itu, 13 gen yang diidentifikasi belum pernah dikaitkan sebelumnya dengan Long Covid.

Lebih lanjut, tim peneliti juga menemukan adanya "saklar molekuler" yang tetap aktif bahkan setelah virus SARS-CoV-2 hilang dari tubuh pasien. Ditemukan sebanyak 71 saklar molekuler masih menyala setahun setelah infeksi awal. Saklar-saklar ini berfungsi mengontrol aktif atau nonaktifnya gen-gen tertentu, yang pada akhirnya memicu kekacauan sistemik yang bermanifestasi sebagai gejala Long Covid.

Profesor Thuc Duy Le menegaskan bahwa penelitian tradisional biomedis kesulitan mengimbangi kerumitan kondisi ini. Namun, dengan memanfaatkan AI pada kumpulan data global, mereka mampu mengidentifikasi ciri molekuler penyakit yang dapat mengarah pada target pengobatan baru. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS Computational Biology dan Critical Reviews in Clinical Laboratory Sciences ini membuka jalan baru bagi diagnosis dan pengobatan yang lebih terpersonalisasi, memberikan harapan bagi jutaan penderita Long Covid di seluruh dunia.

Login IG