Sains

Bumi Ternyata Punya "Ekor" Magnetik Sepanjang 2 Juta Kilometer

Fakta ilmiah mengungkap Bumi memiliki "ekor" magnetik raksasa bernama magnetotail yang membentang 2 juta km, terbentuk dari plasma, dan melindungi planet dari Angin Matahari.

JAKARTA · Tuesday, 16 December 2025 22:00 WITA · Dibaca: 29
Bumi Ternyata Punya "Ekor" Magnetik Sepanjang 2 Juta Kilometer

JAKARTA, JClarity – Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan mengenai komet antarbintang dan ekor bercahaya planet lain, sebuah fakta ilmiah yang mengejutkan publik kembali mengemuka: Planet Bumi ternyata memiliki "ekor" tak kasat mata yang terentang jauh ke antariksa, membentang setidaknya hingga 2 juta kilometer di sisi malam planet.

Struktur masif ini, yang dikenal oleh para ilmuwan sebagai magnetotail, bukanlah ekor yang terbuat dari debu seperti komet, melainkan terbentuk dari plasma—gas bermuatan listrik—yang terperangkap dan dibentuk oleh medan magnet Bumi. Badan Antariksa Eropa (ESA) memperkirakan panjang ekor magnetik ini dapat mencapai hingga 1.000 kali radius Bumi, sebuah dimensi yang sangat luas sehingga membuat pemetaan secara keseluruhan menjadi tantangan besar.

Pembentukan magnetotail merupakan konsekuensi langsung dari interaksi dinamis antara medan magnet pelindung Bumi, yang disebut magnetosfer, dengan Angin Matahari (Solar Wind)—aliran partikel bermuatan berkecepatan tinggi yang terus-menerus dipancarkan dari Matahari. Ketika Angin Matahari menekan magnetosfer di sisi siang Bumi, ia memipihkannya seperti kepala tetesan air. Di sisi sebaliknya (sisi malam), medan magnet tersebut tertarik dan memanjang, membentuk struktur memanjang menyerupai ekor yang menjulur jauh ke belakang.

Peran utama magnetosfer dan magnetotail sangat krusial. Struktur raksasa ini bertindak sebagai perisai tak terlihat, melindungi planet kita dari radiasi matahari dan partikel kosmik berbahaya yang dapat melucuti atmosfer Bumi. Para ilmuwan dari NASA menekankan bahwa magnetosfer ini "mendominasi perilaku partikel bermuatan listrik di ruang angkasa dekat Bumi."

Namun, ekor magnetik Bumi bukanlah entitas statis. Para peneliti mencatat bahwa bentuk dan ukurannya senantiasa berubah-ubah, sangat bergantung pada kondisi Angin Matahari yang menerpa. Sebagai contoh, pada April 2023, sebuah Lontaran Massa Koronal (Coronal Mass Ejection/CME) yang sangat kuat sempat menyebabkan ekor magnetik Bumi terlepas sementara dan digantikan oleh formasi alternatif yang dikenal sebagai "sayap Alfvén". Fenomena dinamis inilah yang memicu peristiwa cuaca antariksa, seperti aurora dan badai geomagnetik, yang berpotensi memengaruhi satelit, jaringan listrik, dan sistem komunikasi di Bumi.

Meskipun keberadaan magnetotail telah dipelajari selama beberapa dekade dan dieksplorasi oleh berbagai wahana antariksa, Badan Antariksa Eropa menyatakan bahwa banyak misteri di wilayah seluas 2 juta kilometer ini masih belum terungkap sepenuhnya. Ukurannya yang masif menjadikan penelitian ini membutuhkan kolaborasi banyak wahana antariksa untuk dapat mengungkap rahasia dari struktur tak kasat mata yang senantiasa membuntuti planet kita ini.

Login IG