Mendekati Bumi, Komet 3I/ATLAS Makin Terang dan Kehijauan
Komet antarbintang 3I/ATLAS makin terang dan memancarkan cahaya hijau saat dekati Bumi. Ahli: disebabkan gas karbon diatomik (C2). Capai titik terdekat 19 Desember 2025.
JAKARTA, JClarity – Komet antarbintang 3I/ATLAS kembali menjadi sorotan dunia astronomi setelah terpantau semakin terang dan memancarkan cahaya kehijauan saat bergerak mendekati Bumi. Objek langka dari luar tata surya ini dijadwalkan akan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada Jumat, 19 Desember 2025, meskipun dipastikan berada pada jarak yang sangat aman.
Temuan terbaru, berdasarkan citra yang direkam oleh teleskop Gemini North di Hawaii pada 26 November 2025, memperlihatkan peningkatan aktivitas komet. Pemanasan yang terus-menerus akibat radiasi Matahari memicu es di dalam inti komet menyublim dan menyembur ke angkasa, membentuk koma terang yang masif di sekitarnya.
Aspek yang paling menarik adalah perubahan warnanya. Pengamatan mengonfirmasi bahwa gas di dalam koma komet kini memancarkan cahaya kehijauan samar, sebuah fenomena yang sebelumnya tidak terdeteksi beberapa bulan lalu. Para astronom menjelaskan bahwa warna hijau ini berasal dari emisi gas karbon diatomik (C2), senyawa kimia yang lazim dilepaskan komet ketika teraktivasi oleh panas Matahari. Perubahan warna ini dinilai signifikan karena memberikan petunjuk baru mengenai komposisi komet, yang saat pertama kali diamati pada Agustus, tampak lebih kemerahan.
Komet 3I/ATLAS merupakan objek antarbintang ketiga yang pernah dikonfirmasi melintasi Tata Surya, setelah 1I/’Oumuamua dan 2I/Borisov. Dengan lintasan hiperbolik, komet ini tidak terikat oleh gravitasi Matahari dan hanya 'menerobos' dalam perjalanan satu arah sebelum kembali melaju ke ruang antarbintang. Objek ini pertama kali ditemukan pada 1 Juli 2025 oleh teleskop ATLAS (Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System) yang didanai NASA.
Titik terdekat komet dengan Bumi, yang dikenal sebagai perigee, akan terjadi pada 19 Desember 2025. Meski mendekat, komet ini tidak akan berjarak lebih dekat dari sekitar 1,8 Satuan Astronomi (SA), atau sekitar 270 juta kilometer. Jarak ini hampir dua kali lipat jarak rata-rata antara Bumi dan Matahari, sehingga Badan Antariksa Eropa (ESA) menegaskan bahwa 3I/ATLAS sama sekali tidak menimbulkan ancaman.
Bagi komunitas ilmiah, momen lintasan dekat ini menawarkan kesempatan emas. Para astronom memanfaatkan fase ini untuk mempelajari debu dan gas yang dilepaskan dari inti komet yang berharga, karena materi ini memberikan gambaran langka tentang bagaimana komet dan materi pembentuk planet terbentuk di sekitar bintang lain. Meskipun saat ini komet mulai dapat diamati di konstelasi Virgo dan Leo, pengamatan visual langsung dari Bumi masih membutuhkan teleskop berukuran besar.