Sains

3.000 Gletser Hilang Setiap Tahunnya, Bukti Bumi Tak Bisa Diselamatkan

Studi terbaru memprediksi 3.000 gletser akan hilang setiap tahun pada 2040, menggarisbawahi kerusakan iklim yang tak terhindarkan. Upaya mitigasi mendesak untuk mencegah bencana.

Jakarta · Wednesday, 17 December 2025 20:00 WITA · Dibaca: 33
3.000 Gletser Hilang Setiap Tahunnya, Bukti Bumi Tak Bisa Diselamatkan

JAKARTA, JClarity – Proyeksi ilmiah terbaru menunjukkan krisis iklim telah mencapai titik kritis yang mengkhawatirkan. Laju hilangnya gletser (lapisan es abadi) di seluruh dunia diprediksi akan meningkat tajam menjadi sekitar 3.000 gletser setiap tahunnya pada tahun 2040, bahkan jika target iklim global saat ini dipenuhi. Angka ini menegaskan adanya kerusakan iklim yang signifikan dan tidak dapat dihindari, menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai kemampuan Bumi untuk sepenuhnya diselamatkan dari dampak pemanasan global.

Data yang dirilis dalam sejumlah studi global, termasuk yang diterbitkan di jurnal Science dan Nature Climate Change, menguraikan percepatan kehancuran es di luar lapisan es Greenland dan Antartika. Saat ini, laju kehilangan gletser diperkirakan mencapai sekitar 1.000 gletser per tahun. Namun, model iklim memproyeksikan bahwa laju 'kepunahan' ini akan mencapai puncaknya pada dekade mendatang, terutama di Pegunungan Alpen Eropa, Amerika Serikat bagian barat, dan Kanada, serta mengancam gletser di wilayah tropis seperti Puncak Jaya di Papua, Indonesia.

Asumsi 'Bumi tak bisa diselamatkan' muncul dari fakta bahwa sebagian besar kerugian massa gletser telah 'terkunci' (locked-in) oleh emisi gas rumah kaca di masa lalu. Dalam skenario kenaikan suhu global paling optimistis, yakni 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri sesuai Perjanjian Paris, para ilmuwan memprediksi setidaknya 49 persen dari total gletser dunia akan tetap hilang pada tahun 2100. Jika skenario pemanasan berlanjut pada jalur saat ini (sekitar 2,7 derajat Celsius), kerugian gletser dapat melonjak hingga 68 persen.

Dampak dari percepatan pencairan ini sangat luas dan mengancam stabilitas global. Hilangnya gletser berkontribusi signifikan terhadap kenaikan permukaan air laut, yang diperkirakan akan menambah sekitar 90 hingga 166 milimeter pada permukaan laut global pada tahun 2100, mengancam kota-kota pesisir dan negara kepulauan. Selain itu, gletser adalah sumber air tawar penting bagi lebih dari 2 miliar orang di Asia dan Amerika Selatan. Pencairan yang cepat awalnya menyebabkan banjir luapan (GLOF), tetapi jangka panjangnya akan memicu kekurangan air yang parah, terutama selama musim kemarau.

Meskipun demikian, para ahli menegaskan bahwa setiap upaya mitigasi sangat penting. Skenario terburuk, di mana pemanasan mencapai 4,0 derajat Celsius, diprediksi akan menghilangkan lebih dari 90 persen gletser. Ini berarti bahwa tindakan untuk mengurangi emisi karbon secara cepat, meskipun tidak dapat mengembalikan gletser yang sudah hilang, masih dapat mencegah bencana yang jauh lebih besar. Pesan utama yang disampaikan oleh komunitas ilmiah adalah: Bumi mungkin tidak dapat diselamatkan dalam kondisi aslinya, tetapi masih ada peluang besar untuk menyelamatkan umat manusia dari konsekuensi yang paling fatal.

Login IG