Keuangan

Utang Luar Negeri RI Turun Jadi US$424,4 M, Kok Bisa? Ini Alasannya!

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia turun jadi US$424,4 M di Q3 2025, terkontraksi 0,6% yoy. Alasannya: perlambatan ULN publik (dampak SBN) dan kontraksi ULN swasta.

JAKARTA · Monday, 17 November 2025 17:52 WITA · Dibaca: 47
Utang Luar Negeri RI Turun Jadi US$424,4 M, Kok Bisa? Ini Alasannya!

JAKARTA, JClarity – Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencatatkan tren penurunan signifikan pada akhir triwulan III 2025. Bank Indonesia (BI) merilis data terkini yang menunjukkan ULN Indonesia turun menjadi US$424,4 miliar, menurun dibandingkan posisi US$432,3 miliar pada triwulan sebelumnya. Penurunan ini menimbulkan pertanyaan mengenai faktor-faktor di balik tren positif tersebut, yang menurut Bank Sentral dipengaruhi oleh gabungan perlambatan di sektor publik dan kontraksi di sektor swasta.

Secara tahunan, data BI menunjukkan ULN Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,6% (year-on-year/yoy) pada triwulan III 2025. Penurunan ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan 6,4% (yoy) yang tercatat pada triwulan II 2025. Perkembangan ini mengindikasikan adanya manajemen risiko yang lebih pruden atau pengaruh dinamika pasar keuangan global yang signifikan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa faktor utama penurunan tersebut berasal dari dua komponen besar: ULN sektor pemerintah dan ULN sektor swasta. ULN pemerintah pada triwulan III 2025 tercatat sebesar US$210,1 miliar, menunjukkan pertumbuhan yang melambat signifikan, yakni hanya 2,9% (yoy) dibandingkan 10,0% (yoy) pada triwulan sebelumnya.

Alasan di Balik Perlambatan Sektor Publik: Ketidakpastian Global dan SBN

Perlambatan pertumbuhan ULN pemerintah sebagian besar dipengaruhi oleh kontraksi pertumbuhan aliran masuk modal asing pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) domestik. Ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi telah menyebabkan investor asing cenderung mengurangi kepemilikan aset berdenominasi rupiah, yang pada gilirannya menekan penarikan utang baru dari pasar internasional.

Meskipun demikian, BI menegaskan bahwa ULN pemerintah tetap dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel. Pemanfaatannya terus diarahkan untuk membiayai program-program prioritas nasional, seperti Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (23,1%), Administrasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib (20,7%), dan Jasa Pendidikan (17,0%). Posisi ULN pemerintah didominasi oleh utang jangka panjang, dengan pangsa mencapai 99,9%.

Kontraksi Sektor Swasta: Prinsip Kehati-hatian Korporasi

Di sisi lain, ULN sektor swasta melanjutkan tren kontraksi. Posisi ULN swasta pada triwulan III 2025 tercatat sebesar US$191,3 miliar, berkontraksi sebesar 1,9% (yoy). Kontraksi ini bersumber dari kontraksi ULN perusahaan nonlembaga keuangan dan lembaga keuangan. Hal ini menunjukkan korporasi Indonesia cenderung lebih berhati-hati dalam mencari pinjaman luar negeri di tengah iklim ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Dengan penurunan ini, rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga membaik, turun menjadi 29,5% dari 30,4% pada triwulan sebelumnya. Angka ini menegaskan bahwa struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang.

Login IG