Tikus Raksasa di Belantara Papua Niugini Kembali Ditemukan Setelah 30 Tahun Hilang
Tikus Raksasa Subalpine Woolly Rat (Mallomys istapantap) kembali didokumentasikan di Papua Niugini setelah 30 tahun hilang. Peneliti Ceko Vejmělka merekam foto & video pertama.
JAKARTA, JClarity – Sebuah kabar yang mengejutkan komunitas ilmiah global datang dari belantara pegunungan berkabut di Papua Niugini (PNG). Spesies tikus raksasa yang dikenal sangat misterius, Subalpine Woolly Rat atau Mallomys istapantap, berhasil didokumentasikan di alam liar untuk pertama kalinya setelah "hilang" dari catatan ilmiah selama tiga dekade. Penemuan ini membuka tabir kehidupan salah satu hewan pengerat terbesar di dunia dan menjadi secercah harapan bagi upaya konservasi keanekaragaman hayati di pulau yang masih menyimpan banyak misteri ini.
Penemuan luar biasa ini adalah hasil dari ekspedisi selama enam bulan yang dipimpin oleh František Vejmělka, seorang kandidat doktor dan peneliti dari Pusat Biologi Akademi Ilmu Pengetahuan Ceko dan Universitas Bohemia Selatan. Vejmělka menjadi ilmuwan pertama yang berhasil mengabadikan foto dan video mamalia nokturnal ini di habitat aslinya, yaitu hutan dan padang rumput di sekitar Gunung Wilhelm, puncak tertinggi di Papua Niugini, pada ketinggian sekitar 3.700 meter di atas permukaan laut.
Sebelumnya, keberadaan Mallomys istapantap hanya diketahui melalui segelintir spesimen museum yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 1989. Setelah itu, tidak ada satu pun penampakan yang dikonfirmasi oleh ilmuwan selama kurang lebih 30 tahun, membuat banyak peneliti mempertanyakan apakah spesies ini masih bertahan di alam liar. Tikus raksasa ini memiliki ciri khas yang mencolok; ia bisa mencapai total panjang hingga 85 sentimeter (termasuk ekor) dan berat sekitar 2 kilogram, menjadikannya salah satu hewan pengerat tikus (murine) terbesar di Bumi.
Data baru yang dikumpulkan oleh tim Vejmělka, yang meliputi rekaman video, foto, dan pengukuran biometrik pertama, memberikan wawasan penting mengenai perilaku, pola makan herbivora, hingga adaptasi spesies ini terhadap ekosistem pegunungan subalpin yang ekstrem. Menurut Vejmělka, salah satu kunci keberhasilan ekspedisi ini adalah kolaborasi erat dengan pemburu adat setempat. Pengetahuan tradisional mereka tentang lanskap dan penghuninya terbukti sangat berharga dalam melacak dan menemukan makhluk yang sangat sulit dijangkau ini.
Rediscovery ini, yang laporannya telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Mammalia, menyoroti kekayaan luar biasa dan sifat yang masih belum terjamah dari dataran tinggi tropis di Pulau Niugini. Selain itu, temuan ini sekaligus menjadi pengingat kritis tentang kebutuhan mendesak untuk melindungi habitat terpencil ini dari ancaman yang kian meningkat seperti perubahan iklim dan kegiatan pertambangan, demi memastikan 'raksasa' yang kembali ditemukan ini dapat terus bertahan hidup.