Tiba-Tiba Harga Emas Mengamuk Lagi, Langsung Cetak 3 Rekor!
Harga emas dunia dan Antam 'mengamuk' lagi dan mencetak tiga rekor. Dipicu ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan pelemahan Dolar AS. Harga Antam capai ATH.
JAKARTA, JClarity – Kilau emas global kembali 'mengamuk' dan mencatatkan reli harga yang signifikan di pasar komoditas dunia. Logam mulia ini tidak hanya tembus ke level tertinggi multi-pekan tetapi juga membukukan tiga pencapaian rekor sekaligus dalam sesi perdagangan terakhir, mendorong harga emas domestik Antam ke rekor tertinggi sepanjang masa (ATH).
Pada perdagangan hari Kamis, 27 November 2025, harga emas dunia di pasar spot (XAU/USD) tercatat menguat, diperdagangkan di sekitar level US$4.167,68 per troy ons setelah melonjak kuat pada hari sebelumnya. Peningkatan ini melanjutkan tren penguatan yang agresif sejak awal pekan. Lonjakan pada sesi perdagangan sebelumnya (26 November 2025) menandai tiga pencapaian krusial, yakni berhasil tembus kembali jauh di atas level psikologis US$4.000, mencetak harga tertinggi dalam hampir dua pekan, serta mencatat kenaikan harian terbaik sejak pertengahan November.
Di pasar domestik, kinerja fantastis emas global langsung tercermin pada harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk. (Antam). Melansir data resmi, harga emas Antam Logam Mulia satuan 1 gram pada 27 November 2025 melesat ke angka Rp2.387.000 per batang, naik sebesar Rp9.000 dari hari sebelumnya. Kenaikan ini membawa harga emas Antam ke level rekor tertinggi sepanjang masa.
Analis pasar sepakat bahwa faktor utama di balik lonjakan agresif ini adalah ekspektasi dovish yang semakin kuat dari The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. Pelaku pasar kini semakin yakin The Fed berada di jalur untuk memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat, dengan spekulasi fokus bergeser ke potensi pemotongan pada Desember.
Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter ini secara langsung menekan nilai tukar Dolar AS (DXY) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Pelemahahan Dolar AS membuat emas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain, yang pada gilirannya memicu permintaan global yang lebih tinggi. Emas sebagai aset non-imbal hasil (non-yielding asset) menjadi sangat menarik ketika suku bunga turun.
Selain sentimen The Fed, dukungan kuat bagi emas juga datang dari faktor safe haven. Ketidakpastian geopolitik global yang meningkat, termasuk ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan, serta kekhawatiran inflasi yang masih membayangi ekonomi global, mendorong investor untuk beralih ke emas sebagai pelindung nilai. Pembelian emas oleh bank-bank sentral berbagai negara, seperti Tiongkok dan India, juga terus menopang harga.
Melihat momentum penguatan saat ini, para analis komoditas memproyeksikan tren kenaikan emas masih memiliki ruang yang lebar. Beberapa bank riset bahkan memproyeksikan harga emas global berpotensi mencapai rentang US$4.400 hingga US$4.500 per troy ons di akhir tahun 2025. Di pasar domestik, harga emas Antam diprediksi berpeluang mencapai level fantastis Rp2.800.000 hingga Rp3.000.000 per gram. Investor disarankan untuk mewaspadai potensi koreksi tajam, meskipun fase bullish emas dinilai masih solid.