Terobosan Medis: Implan Mata Nirkabel PRIMA dan Kacamata AR Pulihkan Kemampuan Membaca Pasien Buta
Teknologi PRIMA: Implan mata nirkabel dan kacamata AR berhasil pulihkan kemampuan membaca 80% pasien buta akibat degenerasi makula. Terobosan medis canggih.
JAKARTA, JClarity – Era baru dalam teknologi penglihatan buatan telah tiba. Sebuah uji coba klinis skala kecil yang inovatif menunjukkan bahwa kombinasi implan mata nirkabel canggih dengan kacamata Realitas Tertambah (Augmented Reality/AR) berhasil memulihkan kemampuan membaca pada pasien yang kehilangan penglihatan akibat penyakit degeneratif.
Hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal bergengsi The New England Journal of Medicine pada 20 Oktober 2025 ini melibatkan puluhan pasien dengan kondisi geographic atrophy (GA), bentuk lanjut dari degenerasi makula terkait usia (AMD). Kondisi ini merupakan penyebab utama kebutaan pada lansia di mana penglihatan sentral (pusat) pasien hancur secara progresif.
Sistem terobosan ini dinamakan Photovoltaic Retina Implant Microarray (PRIMA). Secara garis besar, sistem ini terdiri dari dua komponen utama: mikrochip fotovoltaik berukuran 2x2 milimeter yang ditanamkan di bawah retina dan sepasang kacamata AR khusus yang dilengkapi kamera video.
Kacamata AR berfungsi menangkap gambar visual, seperti teks di buku atau rambu jalan, lalu memproyeksikannya sebagai sinar inframerah nirkabel ke implan PRIMA. Mikrochip ultra-tipis tersebut kemudian mengubah sinyal inframerah menjadi impuls listrik yang diproses oleh saraf optik yang tersisa dan diterjemahkan oleh otak sebagai penglihatan, atau yang dikenal sebagai form vision (mengenali bentuk dan pola).
Dalam uji coba yang dipimpin oleh tim peneliti dari Stanford Medicine, University College London, dan Moorfields Eye Hospital, sekitar 80% dari 38 peserta berhasil membaca huruf dan kata-kata setahun setelah menjalani operasi implan dan menggunakan kacamata AR tersebut. Beberapa pasien bahkan mencapai ketajaman visual yang sebanding dengan penglihatan 20/42, tingkat yang memungkinkan mereka untuk kembali membaca buku dan label makanan.
“Dalam sejarah penglihatan buatan, ini menandai era baru,” ujar Mahi Mugit, seorang dokter spesialis mata dari University College London dan Moorfields Eye Hospital. “Pasien buta kini benar-benar dapat memulihkan penglihatan pusat yang bermakna, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tambahnya.
Salah satu peserta uji coba, Sheila Irvine (70), yang telah terdaftar sebagai penyandang tunanetra selama puluhan tahun, mengungkapkan kegembiraannya. “Rasanya luar biasa. Saya bisa membaca lagi, mengisi teka-teki silang, dan menikmati hal-hal kecil yang dulu mustahil saya lakukan,” katanya.
Keunggulan sistem PRIMA terletak pada sifat fotovoltaiknya yang tidak memerlukan kabel atau baterai eksternal, dan memungkinkan pasien menggabungkan penglihatan sentral prostetik baru dengan penglihatan perifer alami mereka, sehingga membantu navigasi lingkungan yang lebih baik. Meskipun beberapa peserta mengalami efek samping minor pasca-operasi yang dapat sembuh, para peneliti kini fokus mengembangkan versi implan dengan resolusi yang lebih tinggi dengan harapan dapat memberikan penglihatan mendekati normal di masa depan.