Terobosan Kampus: Teknik Elektro UBT Wajibkan Praktisi Industri Uji Proposal Skripsi Mahasiswa
Teknik Elektro UBT membuat terobosan dengan mewajibkan praktisi industri menguji proposal skripsi mahasiswa. Langkah ini untuk menjembatani kesenjangan akademik dan kebutuhan riil industri.
Tarakan, JClarity – Departemen Teknik Elektro Universitas Borneo Tarakan (UBT) meluncurkan terobosan signifikan dalam kurikulum akademik mereka dengan mewajibkan praktisi industri untuk terlibat langsung dalam pengujian proposal skripsi mahasiswa. Kebijakan revolusioner ini mulai diimplementasikan pada semester ganjil tahun ajaran ini, menandai upaya serius kampus dalam menjembatani kesenjangan antara dunia akademis dan kebutuhan riil sektor industri.
Kepala Departemen Teknik Elektro UBT, Dr. Ir. Sinar Jaya, M.T., menyatakan bahwa langkah ini diambil sebagai respons atas tuntutan pasar kerja yang semakin spesifik dan dinamis. “Kualitas lulusan kami tidak hanya diukur dari nilai IPK, tetapi dari relevansi solusi yang mereka tawarkan terhadap permasalahan industri saat ini. Dengan mewajibkan praktisi industri menguji proposal, kami memastikan bahwa topik penelitian skripsi memiliki dampak dan kelayakan implementasi di lapangan,” ujar Dr. Sinar dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/11).
Mekanisme yang diterapkan mengharuskan setiap mahasiswa yang mengajukan proposal skripsi untuk melewati panel penguji tambahan yang salah satu anggotanya adalah seorang profesional aktif di bidang kelistrikan, energi, telekomunikasi, atau otomatisasi. Praktisi ini bertindak sebagai 'reviewer eksternal' yang bertugas memberikan masukan kritis mengenai aspek fungsionalitas, urgensi industri, dan potensi komersial dari penelitian yang diusulkan.
Keterlibatan praktisi ini diharapkan memberikan dua manfaat utama. Pertama, bagi mahasiswa, mereka akan mendapatkan umpan balik langsung dari calon pengguna akhir teknologi, memaksa mereka untuk menyusun metodologi penelitian yang lebih praktis dan berorientasi solusi. Kedua, bagi industri, ini menjadi kanal efektif untuk menanamkan masalah-masalah teknis yang membutuhkan solusi ilmiah, sekaligus menjadi sarana 'talent scouting' untuk merekrut lulusan yang sudah terbukti memiliki pemahaman mendalam tentang isu-isu spesifik mereka.
Salah satu mahasiswa tingkat akhir, Rina Puspita, menyambut baik kebijakan ini meskipun mengakui tantangannya lebih berat. “Awalnya cukup menekan, tapi setelah mendengar masukan dari praktisi PLN tentang keandalan sistem, perspektif saya tentang penelitian berubah total. Proposal saya kini jauh lebih tajam dan fokus pada masalah yang benar-benar dihadapi industri,” kata Rina.
UBT berharap terobosan di Teknik Elektro ini dapat menjadi model percontohan (pilot project) yang akan direplikasi oleh departemen teknis lainnya di lingkungan universitas, serta mendorong perguruan tinggi lain di Indonesia untuk mempererat kolaborasi serupa. Kebijakan ini merupakan manifestasi nyata dari semangat Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dalam konteks penelitian tugas akhir.