Ternyata Menanam Jenis Padi Tertentu Bisa Kurangi Emisi Metana.
Varietas padi tertentu seperti Dodokan, Ciherang, dan seri Inpari terbukti ampuh mengurangi emisi metana dari sawah. Inovasi genetik dan budidaya jadi kunci pertanian ramah iklim.
JAKARTA, JClarity – Sektor pertanian, khususnya budidaya padi sawah yang tergenang, telah lama diidentifikasi sebagai salah satu kontributor utama emisi gas metana (CH4) secara global. Namun, sebuah terobosan signifikan dari penelitian dan praktik pertanian di Indonesia menunjukkan bahwa solusi mitigasi iklim yang efektif ternyata dapat dilakukan hanya dengan memilih varietas padi yang tepat. Penelitian terbaru menggarisbawahi pemilihan benih padi beremisi rendah sebagai strategi mitigasi yang mudah dan murah untuk mengurangi jejak gas rumah kaca (GRK) dari sektor pangan nasional.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa varietas padi memiliki kapasitas yang beragam dalam melepaskan gas metana karena perbedaan sifat fisiologis dan morfologisnya. Sekitar 90 persen gas metana dari persawahan dilepaskan ke atmosfer melalui saluran khusus pada tanaman padi yang disebut *aerenchyma*. Oleh karena itu, faktor genetik tanaman, seperti pola perakaran, jumlah anakan, biomassa, dan kemampuan oksidasi di sekitar akar, menjadi penentu utama dalam produksi dan pelepasan metana.
Di Indonesia, beberapa varietas padi unggul telah diidentifikasi memiliki kecenderungan emisi metana yang lebih rendah. Contoh varietas yang dinilai baik untuk menurunkan kadar emisi metana adalah Dodokan. Sementara itu, varietas lain yang dianjurkan Kementerian Pertanian untuk budidaya rendah emisi meliputi Ciherang, Mekongga, Batanghari, Cigeulis, Memberamo, serta seri Inpari seperti Inpari 6, Inpari 13, Inpari 19, Inpari 28, dan Inpari 32. Bahkan, riset di Balai Penelitian Pertanian (Balingtan) menunjukkan penggantian varietas seperti Cisadane dengan Way Apoburu mampu menekan laju emisi CH4 hingga 35 persen, dan secara keseluruhan mampu menekan 10 hingga 66 persen.
Secara global, inovasi terkini terus membuka jalan. Sebuah studi yang dipublikasikan pada Februari 2025 menemukan bahwa galur padi baru dapat dikembangkan untuk mengurangi emisi metana hingga 70 persen tanpa rekayasa genetika (non-GMO). Para ilmuwan menemukan bahwa eksudat akar (senyawa kimia yang dilepaskan akar) memainkan peran kunci; galur padi yang menghasilkan lebih sedikit fumarat—senyawa yang menjadi 'makanan' bagi mikroba penghasil metana—dan lebih banyak etanol, terbukti mampu menekan emisi secara signifikan sambil tetap mempertahankan produktivitas yang tinggi.
Pemilihan varietas padi rendah emisi merupakan bagian integral dari upaya mitigasi perubahan iklim di sektor pertanian. Strategi ini harus dilakukan secara sinergis dengan teknik budidaya lainnya, seperti pengelolaan air secara berselang (Alternate Wetting and Drying/AWD) dan pemupukan berimbang. Langkah kolektif ini tidak hanya berkontribusi pada pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca nasional, tetapi juga mendukung terwujudnya ketahanan pangan berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan.