Teori 'Planet Y' Gemparkan Astronom: Tata Surya Berpotensi Punya Dua Planet Baru, Bukan Hanya Planet Kesembilan
Astronom geger. Hipotesis 'Planet Y' dari studi Princeton menunjukkan potensi dua planet baru (Planet Sembilan & Planet Y) bersembunyi di Tata Surya luar.
JAKARTA, JClarity – Komunitas astronomi global kembali digemparkan oleh perkembangan terbaru seputar Tata Surya luar. Setelah hampir satu dekade pencarian intensif terhadap Planet Sembilan (sering disebut Planet X), kini muncul hipotesis baru yang menantang: Tata Surya kita berpotensi memiliki dua planet baru yang tersembunyi, yaitu Planet Sembilan dan sebuah objek yang dijuluki 'Planet Y'. Teori ini membuka kemungkinan bahwa sistem tata surya kita, yang saat ini diakui memiliki delapan planet, sebenarnya beranggotakan sepuluh.
Pencarian planet tersembunyi di wilayah terluar Tata Surya, khususnya di Sabuk Kuiper, bermula dari anomali orbital yang diamati pada sekelompok Objek Trans-Neptunus (TNO) ekstrem. Sejak 2016, hipotesis Planet Sembilan yang diajukan oleh astronom Caltech, Mike Brown dan Konstantin Batygin, mendominasi. Planet Sembilan diperkirakan memiliki massa sekitar 5 hingga 10 kali massa Bumi dan mengorbit sangat jauh, diperkirakan lebih dari 400 kali jarak Bumi-Matahari (AU). Keberadaannya dianggap sebagai penjelasan paling masuk akal untuk pengelompokan aneh pada orbit TNO yang paling ekstrem.
Namun, di tengah pencarian Planet Sembilan, sebuah studi terbaru yang diterbitkan pada Agustus 2025 di jurnal *Monthly Notices of the Royal Astronomical Society* memberikan petunjuk baru. Tim peneliti yang dipimpin oleh Amir Siraj dari Universitas Princeton mengajukan bukti adanya planet hipotetis kedua, yang kini dijuluki 'Planet Y'. Berbeda dengan Planet Sembilan yang masif dan jauh, Planet Y diduga berukuran mirip atau sedikit lebih kecil dari Bumi, tetapi berada pada jarak yang relatif 'lebih dekat'—sekitar 100 hingga 200 AU.
Penemuan Siraj dan tim didasarkan pada analisis lintasan 50 Objek Sabuk Kuiper (KBO) yang menunjukkan kemiringan orbital yang tidak biasa, sekitar 15 derajat, dibandingkan dengan planet-planet di Tata Surya. Mereka menyimpulkan bahwa satu-satunya penjelasan logis untuk kemiringan ini adalah adanya tarikan gravitasi dari dunia tersembunyi. Menariknya, objek yang dibutuhkan untuk menjelaskan kemiringan ini tidak sesuai dengan karakteristik Planet Sembilan, melainkan memerlukan objek lain, yang lebih kecil dan lebih dekat, yakni Planet Y.
Jika kedua hipotesis—Planet Sembilan yang besar dan jauh, serta Planet Y yang mirip Bumi dan lebih dekat—terbukti benar melalui pengamatan langsung, Tata Surya kita akan memiliki dua anggota baru. Potensi keberadaan dua objek ini secara signifikan mengubah pemahaman para ilmuwan tentang sejarah pembentukan Tata Surya dan proses dinamis di wilayah Sabuk Kuiper.
Saat ini, kedua planet tersebut masih berstatus hipotetis, dan belum ada bukti pengamatan langsung yang definitif. Namun, harapan besar diletakkan pada instrumen observasi generasi baru. Observatorium Vera C. Rubin di Chili, dengan kamera digital raksasanya, diharapkan dapat memulai survei langit mendalam dalam waktu dekat. Para astronom berharap survei ini akan mengungkap objek-objek redup dan bergerak lambat di Tata Surya luar, yang akhirnya dapat mengkonfirmasi, atau membantah, keberadaan Planet Sembilan dan 'Planet Y'.