Temuan Kaca Hitam di Australia Bisa Buktikan Tubrukan Asteroid Raksasa
Kaca alami 11 juta tahun di Australia Selatan, dinamakan 'ananguites', membuktikan tubrukan asteroid raksasa yang sebelumnya tak diketahui. Kawahnya diduga berada di Filipina, Indonesia, atau Papua Nugini. Temuan ini penting untuk pertahanan planet.
JAKARTA, JClarity – Sebidang kaca alami berwarna hitam yang ditemukan secara eksklusif di Australia Selatan telah mengungkap bukti kuat tentang tabrakan asteroid raksasa yang tidak pernah tercatat sebelumnya, yang diperkirakan terjadi sekitar 11 juta tahun yang lalu. Temuan langka ini, yang dikenal sebagai tektit atau kini dinamai *ananguites*, menjadi kapsul waktu geologi yang membuka babak baru dalam sejarah kekerasan geologi Bumi, menurut hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal ilmiah *Earth and Planetary Science Letters* pada September 2025.
Tektit adalah fragmen kaca alami yang terbentuk ketika sebuah benda antariksa menghantam Bumi dengan energi yang sangat besar, melelehkan batuan permukaan dan melontarkannya hingga ribuan kilometer dari lokasi tumbukan. Tim peneliti dari Curtin University di Australia dan Aix-Marseille University di Prancis, yang dipimpin oleh Anna Musolino dan melibatkan ahli geokimia Profesor Fred Jourdan, menemukan bahwa jenis tektit baru ini, yang secara kimia berbeda, berasal dari peristiwa dampak yang sepenuhnya terpisah dari tektit Australasia yang terkenal (berusia sekitar 780.000 tahun).
Analisis rinci menunjukkan bahwa pecahan kaca tersebut berusia sekitar 10,76 juta tahun. Ukuran medan sebaran tektit (*tektite strewn field*) di Australia Selatan mengindikasikan bahwa tubrukan yang terjadi pastilah sangat dahsyat. “Kaca-kaca ini unik di Australia dan telah mencatat peristiwa tumbukan kuno yang bahkan tidak kami ketahui,” ujar Profesor Fred Jourdan dari Curtin's School of Earth and Planetary Sciences.
Meskipun demikian, misteri terbesar dari penemuan ini adalah kawah tumbukan yang hilang. Para ilmuwan belum berhasil menemukan bekas luka yang ditinggalkan oleh tubrukan masif tersebut. Profesor Jourdan mencatat bahwa meskipun dampaknya pasti sangat besar, kawahnya belum ditemukan. Tim peneliti menduga lokasi kawah tumbukan tersebut mungkin berada di daerah busur vulkanik, seperti Filipina, **Indonesia**, atau Papua Nugini, di mana jejaknya bisa saja disalahartikan sebagai fitur vulkanik atau telah terkubur dan tererosi oleh waktu.
Penamaan tektit baru ini, *ananguites*, merupakan pengakuan terhadap masyarakat adat setempat, suku Pitjantjatjara dan Yankunytjatjara, yang menyebut diri mereka Anangu, yang berarti 'manusia'. Temuan ini tidak hanya menambah pemahaman tentang masa lalu geologi Bumi tetapi juga memiliki implikasi penting untuk pertahanan planet. “Memahami kapan dan seberapa sering asteroid besar menghantam Bumi juga membantu kami menilai risiko dampak di masa depan,” tutup Jourdan.