Sains

Teleskop James Webb Konfirmasi Keberadaan 'Super-Bumi' di Zona Layak Huni, Berpotensi Miliki Atmosfer Kaya Oksigen

JWST konfirmasi Super-Bumi di Zona Layak Huni, GJ 251c, berjarak 18 tahun cahaya. Analisis atmosfer mencari ozon sebagai penanda potensi oksigen dan kehidupan.

Jakarta · Saturday, 15 November 2025 04:00 WITA · Dibaca: 27
Teleskop James Webb Konfirmasi Keberadaan 'Super-Bumi' di Zona Layak Huni, Berpotensi Miliki Atmosfer Kaya Oksigen

JAKARTA, JClarity – Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) terus memperluas batas pemahaman manusia tentang alam semesta. Dalam perkembangan terbaru yang memicu kegembiraan di kalangan astronom, JWST telah mengkonfirmasi dan menganalisis secara mendalam keberadaan ‘Super-Bumi’ yang berada tepat di Zona Layak Huni (Habitable Zone/HZ) bintang induknya, yang dikenal sebagai zona 'Goldilocks' kosmik. Temuan ini membuka harapan baru dalam pencarian kehidupan ekstraterestrial, terutama karena data atmosfer awal menunjukkan potensi untuk mendukung tanda-tanda kehidupan, termasuk atmosfer yang kaya oksigen.

Salah satu kandidat terkemuka dari pengamatan terbaru adalah eksoplanet GJ 251c, sebuah 'Super-Bumi' yang berjarak hanya 18 tahun cahaya dari Bumi, menjadikannya tetangga kosmik yang relatif dekat. Eksoplanet tersebut mengorbit bintang katai merah (red dwarf) dan posisinya yang sempurna di dalam HZ memastikan suhu permukaannya secara teori memungkinkan adanya air cair. Para ilmuwan NASA menyatakan bahwa GJ 251c, karena ukurannya yang 'Super-Bumi' dan komposisinya yang sesuai, adalah salah satu target utama untuk analisis atmosfer mendalam, yang dapat mengungkapkan keberadaan air, metana, atau bahkan oksigen.

Selain itu, program JWST juga menyoroti sistem planet TRAPPIST-1, yang berjarak 40 tahun cahaya, dengan setidaknya tujuh planet seukuran Bumi mengorbit bintang katai dingin. Planet TRAPPIST-1e, yang berada dalam HZ, menjadi fokus intensif. Observasi terbaru JWST pada tahun 2025 (menggunakan data 2023) berhasil menyingkirkan kemungkinan atmosfer primordial (kaya hidrogen) namun belum dapat mengesampingkan adanya atmosfer sekunder yang lebih padat dan mirip Bumi—sebuah prasyarat mutlak bagi air permukaan dan potensi kehidupan.

Meskipun pendeteksian langsung oksigen molekuler (O2) masih menjadi tantangan besar, para ilmuwan telah menyusun 'peta jalan' menggunakan kapabilitas canggih JWST. Mereka fokus mencari ozon (O3), molekul yang merupakan produk sampingan alami dari oksigen yang dihasilkan oleh proses biologis (fotosintesis) di Bumi. Ozon lebih mudah dideteksi daripada oksigen itu sendiri. Jika JWST mendeteksi ozon berlimpah bersamaan dengan kandungan karbon dioksida (CO2) yang rendah di atmosfer Super-Bumi berbatu, ini akan menjadi indikasi kuat bahwa kehidupan skala planet sedang mengonsumsi CO2 dan melepaskan oksigen.

Penemuan dan analisis atmosfer mendalam yang dilakukan JWST menandai pergeseran paradigma dalam pencarian kehidupan di luar Bumi. Dengan kemampuan instrumen inframerahnya yang tak tertandingi, para astronom kini dapat melampaui sekadar identifikasi zona layak huni dan secara langsung mencari 'sidik jari' kimiawi kehidupan, mendorong batas-batas penemuan yang dapat mengubah pandangan manusia tentang posisi mereka di alam semesta dalam beberapa tahun mendatang.

Login IG