Keuangan

Tak Kuasa Tahan Dolar, Rupiah Ambruk Sentuh Level Rp16.700-an Pagi Ini

Rupiah ambruk sentuh level Rp16.700-an pagi ini. Dipicu oleh penguatan Dolar AS dan sentimen 'higher for longer' The Fed, BI didesak lakukan intervensi agresif.

Jakarta · Thursday, 18 December 2025 19:00 WITA · Dibaca: 31
Tak Kuasa Tahan Dolar, Rupiah Ambruk Sentuh Level Rp16.700-an Pagi Ini

JAKARTA, JClarity – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) kembali tertekan hebat pada pembukaan perdagangan pagi ini. Rupiah ambruk, menembus batas psikologis dan menyentuh level kritis Rp16.700-an, memperpanjang tren pelemahan yang dipicu oleh penguatan Dolar AS yang masif.

Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun dari Bloomberg pada pukul 09.30 WIB, Rupiah tercatat berada di posisi Rp16.725 per USD. Angka ini menunjukkan depresiasi signifikan sebesar 0,55% dibandingkan dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya. Pelemahan drastis ini menempatkan Rupiah sebagai salah satu mata uang Asia dengan kinerja terburuk di awal hari perdagangan, di tengah tekanan serupa yang dialami mata uang regional lainnya.

Tekanan terhadap Rupiah bersumber utama dari sentimen 'higher for longer' di Amerika Serikat. Rilis data ekonomi AS yang lebih solid dari perkiraan—terutama angka klaim pengangguran dan penjualan ritel—semakin memperkuat keyakinan pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level tinggi lebih lama dari yang diantisipasi. Hal ini memicu lonjakan imbal hasil (yield) obligasi AS T-Note 10 tahun dan mendorong Indeks Dolar (DXY) ke level tertinggi multi-bulan.

Ekonom Senior dan Direktur Riset Lembaga Kajian Moneter & Fiskal (LKMF), Purbaya Yudha, menilai level Rp16.700-an adalah titik bahaya yang membutuhkan respons cepat dari otoritas moneter. "Tekanan eksternal sangat dominan, didorong oleh *risk-off sentiment* global. Investor global beralih ke aset aman berbasis USD, yang memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar obligasi dan saham domestik secara signifikan," ujarnya.

Menghadapi situasi ini, pasar kini menanti intervensi lebih agresif dari Bank Indonesia (BI). Sebelumnya, Gubernur BI telah menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui strategi 'triple intervention'—meliputi pasar spot, pasar *forward*, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Namun, jika pelemahan terus berlanjut, BI mungkin terpaksa mempertimbangkan langkah kebijakan yang lebih drastis, termasuk penaikan suku bunga acuan di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur, demi memitigasi dampak lanjutan terhadap inflasi dan stabilitas sistem keuangan.

Login IG