Suku Bunga BI Bertahan di 6,25%, Rupiah Menguat Tipis di Tengah Bayang-bayang Kenaikan Harga Energi Global
BI mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di 6,25% untuk menjaga stabilitas Rupiah dan kendali inflasi. Rupiah menguat tipis di tengah risiko kenaikan harga energi global.
JAKARTA, JClarity – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan, BI-Rate, di level 6,25%. Keputusan ini diambil sebagai langkah
Pengumuman mempertahankan BI-Rate pada level 6,25%, bersamaan dengan suku bunga
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa fokus utama kebijakan moneter saat ini adalah stabilitas nilai tukar. Penguatan Rupiah dianggap vital karena secara langsung dapat meredam risiko inflasi yang diimpor (
Namun, optimisme penguatan Rupiah tipis ini tertahan oleh dinamika harga komoditas energi dunia. Pada awal Desember ini, harga minyak mentah acuan global seperti Brent dan West Texas Intermediate (WTI) menunjukkan tren stabil cenderung menguat, dengan Brent berada di kisaran US$62 hingga US$63 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh keputusan Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) yang sepakat menahan peningkatan produksi hingga kuartal pertama tahun depan, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di beberapa kawasan penghasil minyak utama.
Bagi Indonesia, sebagai salah satu negara
Oleh karena itu, kebijakan BI mempertahankan suku bunga di 6,25% dipandang sebagai langkah mitigasi yang hati-hati. Selain intervensi di pasar valuta asing, BI memperkuat koordinasi dengan Pemerintah (TPIP dan TPID) untuk memastikan pengendalian inflasi pangan dan energi tetap menjadi prioritas, guna melindungi daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global yang berkelanjutan.