Studi Terbaru: Alam Semesta Memasuki Fase Perlambatan, Energi Gelap Berubah Lebih Cepat dari Dugaan
Studi terbaru menunjukkan ekspansi alam semesta mungkin melambat, mengisyaratkan Energi Gelap tidak konstan dan berubah lebih cepat dari perkiraan standar kosmik.
Jakarta, JClarity – Penelitian mutakhir yang dipublikasikan oleh tim astronom internasional telah mengguncang fondasi kosmologi modern, mengemukakan bukti bahwa ekspansi alam semesta mungkin tidak lagi berakselerasi, melainkan telah memasuki fase perlambatan (deselerasi). Temuan ini, jika terkonfirmasi, menunjukkan bahwa Energi Gelap, kekuatan misterius yang diyakini mendorong perluasan kosmos, berevolusi seiring waktu jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Hasil penelitian yang dipimpin oleh Profesor Young-Wook Lee dari Universitas Yonsei, Korea Selatan, dan diterbitkan pada 6 November 2025 di jurnal prestisius *Monthly Notices of the Royal Astronomical Society*, secara langsung menantang Model Standar Kosmologi (Lambda Cold Dark Matter atau $\Lambda$CDM). Selama hampir tiga dekade, para ilmuwan meyakini bahwa alam semesta mengembang dengan laju yang semakin cepat, sebuah kesimpulan yang didasarkan pada pengamatan supernova Tipe Ia yang jauh—penemuan yang memenangkan Hadiah Nobel Fisika pada tahun 2011.
Profesor Lee dan timnya melakukan analisis ulang terhadap ribuan pengukuran jarak kosmik yang menggunakan supernova Tipe Ia sebagai "lilin standar." Mereka menemukan bahwa asumsi standar mengenai kecerahan supernova tersebut mungkin bias secara sistematis karena usia bintang induknya. Dengan mengoreksi bias yang berkaitan dengan usia galaksi induk ini, data yang dihasilkan tidak lagi mendukung skenario percepatan abadi, melainkan mengarah pada fase deselerasi pada zaman sekarang.
“Studi kami menunjukkan bahwa alam semesta telah memasuki fase perluasan yang melambat pada zaman sekarang dan bahwa Energi Gelap berevolusi seiring waktu jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya,” ujar Profesor Lee. Pergeseran ini menyiratkan bahwa Energi Gelap—yang dalam model standar direpresentasikan sebagai Konstanta Kosmologi ($\Lambda$) yang tidak berubah—sebenarnya adalah entitas yang dinamis dan kekuatannya mungkin semakin melemah. Analisis menunjukkan parameter persamaan keadaan Energi Gelap ($w$) bergerak menjauh dari nilai $-1$ (konstan) menuju nilai yang lebih lemah.
Implikasi dari temuan ini sangat besar. Jika Energi Gelap terus melemah, atau bahkan menjadi negatif, nasib akhir alam semesta dapat berubah secara radikal. Alih-alih berakhir dalam "Big Freeze" (kematian panas) yang lambat, kosmos secara teoritis dapat kembali menyusut, mengarah pada skenario "Big Crunch." Selain itu, hasil ini dipercaya dapat membantu menyelesaikan ketegangan Hubble yang sudah berlangsung lama, yakni perbedaan dalam pengukuran laju ekspansi alam semesta antara era awal dan era saat ini.
Para ahli kosmologi lain, meskipun mengakui pentingnya penelitian ini, menekankan perlunya konfirmasi lebih lanjut dari instrumen observasi generasi baru seperti Teleskop Antariksa James Webb (JWST) atau instrumen survei massa seperti DESI (Dark Energy Spectroscopic Instrument). Namun, perdebatan ilmiah mengenai sifat sejati Energi Gelap dan nasib jagat raya kini dipicu kembali dengan intensitas yang lebih tinggi.