Sains

Studi: Kemampuan Gletser Menahan Pemanasan Global Tinggal Satu Dekade ke Depan.

Studi terbaru mengungkap gletser akan kehilangan kemampuan menahan pemanasan global dalam 10 tahun (2030-an). Ancaman 'peak water' dan kenaikan permukaan laut mendesak.

Jakarta · Monday, 20 October 2025 17:00 WITA · Dibaca: 63
Studi: Kemampuan Gletser Menahan Pemanasan Global Tinggal Satu Dekade ke Depan.

JAKARTA, JClarity – Sebuah studi ilmiah terbaru memberikan peringatan keras mengenai batas waktu kemampuan gletser dunia untuk menahan dampak pemanasan global. Penelitian ini menemukan bahwa mekanisme pertahanan alami gletser, yakni mendinginkan udara di sekitarnya, diperkirakan akan mencapai titik puncaknya dalam satu dekade ke depan, tepatnya pada tahun 2030-an, sebelum tren pencairan tak terkendali terjadi.

Temuan yang dipublikasikan di jurnal ilmiah terkemuka ini dirilis oleh tim peneliti dari Institute of Science and Technology Austria (ISTA), yang dipimpin oleh Francesca Pellicciotti. Para peneliti mengkompilasi dan menganalisis kumpulan data global yang luas, termasuk observasi dari stasiun iklim di ketinggian 5.000 meter di lereng Gunung Everest, yang menunjukkan bagaimana gletser bereaksi terhadap udara yang memanas.

Mekanisme yang dimaksud adalah fenomena pendinginan mikro atau angin katabatik, di mana massa udara dingin terbentuk di permukaan gletser dan mengalir menuruni lereng lembah, sehingga mendinginkan lingkungan lokal di sekitarnya. Meskipun ini memberikan efek perlindungan sementara, peneliti postdoctoral Thomas Shaw menjelaskan bahwa efek ini tidak akan bertahan lama, dan pergeseran tren akan terjadi sebelum pertengahan abad. Setelah periode puncak tersebut, suhu di sekitar permukaan gletser diproyeksikan akan meningkat lebih cepat, yang secara drastis mempercepat proses pencairan dan penyusutan es.

Konsekuensi dari melewati titik kritis ini sangat luas, terutama bagi ketahanan air global. Pencairan gletser yang dipercepat menjadi penyumbang terbesar kedua kenaikan permukaan laut global setelah pemanasan lautan, dan air lelehan gletser merupakan sumber air vital bagi ratusan juta manusia. Di wilayah Pegunungan Asia Tengah (Hindu Kush Himalaya), misalnya, lebih dari 120 juta petani diperkirakan menghadapi gangguan pasokan air yang signifikan akibat mundurnya gletser.

Krisis ini juga memiliki relevansi yang sangat mendesak bagi Indonesia. Gletser tropis yang tersisa di Puncak Jaya, Papua, adalah satu-satunya di Pasifik Barat, dan saat ini menghadapi nasib yang jauh lebih cepat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada tahun 2024 mencatat penyusutan signifikan, dengan perkiraan bahwa gletser di Puncak Jaya berpotensi hilang sepenuhnya sebelum tahun 2026, mendahului batas waktu global. Penemuan ini menekankan bahwa meskipun mekanisme pendinginan alami gletser memberikan sedikit waktu tambahan, ini hanyalah 'jendela' singkat bagi pemerintah dan pembuat kebijakan untuk mengoptimalkan rencana pengelolaan air dan, yang paling penting, mempercepat tindakan mitigasi iklim global untuk menghindari dampak terburuk sebelum pertengahan abad.

Login IG