Studi Baru: Daging Olahan dan Minuman Manis Jadi Racun Terburuk bagi Otak.
Studi terbaru Virginia Tech mengungkap daging ultra-olahan dan minuman manis bergula adalah makanan terburuk yang meningkatkan risiko gangguan kognitif hingga 17%.
JAKARTA, JClarity – Sebuah studi ilmiah terbaru memberikan peringatan keras bagi masyarakat global mengenai ancaman tersembunyi dalam pola makan sehari-hari, menyoroti bahwa daging ultra-olahan dan minuman manis bergula adalah “racun” terburuk yang dapat merusak kesehatan otak dan fungsi kognitif.
Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Virginia Tech di Amerika Serikat dan dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition ini secara spesifik memetakan jenis makanan ultra-proses (ultra-processed foods/UPF) mana yang paling cepat menyebabkan penurunan fungsi otak. Hasilnya mengejutkan, dengan menempatkan daging olahan dan minuman bergula di puncak daftar makanan yang memicu gangguan kognitif.
Studi yang melibatkan data dari 4.750 penduduk Amerika Serikat berusia 55 tahun ke atas dan dilacak selama tujuh tahun (2014–2020) ini, menemukan korelasi yang signifikan. Peserta yang mengonsumsi setidaknya satu porsi tambahan daging ultra-olahan setiap hari memiliki peningkatan risiko gangguan kognitif, termasuk yang terkait dengan demensia dan penyakit Alzheimer, sebesar 17 persen.
Sementara itu, minuman manis seperti soda, teh kemasan, dan minuman buah berpemanis juga menunjukkan risiko yang substansial. Konsumsi satu porsi tambahan minuman bergula per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kognitif sebesar 6 persen.
Temuan kunci lain dari penelitian ini adalah bahwa tidak semua kategori makanan ultra-proses memiliki dampak yang sama. Secara total, konsumsi UPF secara umum tidak selalu berhubungan langsung dengan penurunan fungsi otak, melainkan dua kategori spesifik—daging ultra-olahan dan minuman manis—yang menjadi “musuh utama” daya ingat.
Para ahli saraf menjelaskan bahwa mekanisme utama di balik dampak buruk ini adalah peradangan kronis yang dipicu oleh tingginya kandungan gula rafinasi, lemak jenuh, dan zat aditif buatan dalam makanan tersebut. Peradangan ini tidak hanya memengaruhi sistem kardiovaskular, tetapi juga merusak struktur otak dan mempercepat penuaan jaringan otak, bahkan memicu penumpukan protein berbahaya seperti beta-amiloid yang terkait dengan Alzheimer.
Menanggapi hasil studi ini, Profesor Brenda Davy, pakar nutrisi manusia dari Virginia Tech, menyarankan masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih makanan. "Ada hal-hal yang bisa kita ubah. Kuncinya adalah moderasi dan keseimbangan dalam pola makan," ujarnya. Rekomendasi praktis yang ditekankan adalah mengganti minuman manis dengan air putih, memilih daging deli yang tidak terlalu terproses, dan meningkatkan kebiasaan memasak makanan dari bahan utuh di rumah.