Sleep Science dan Rahasia Otak: Tidur Lebih dari Sekadar Istirahat
Sains tidur terbaru mengungkap tidur bukan sekadar istirahat, melainkan fase aktif otak untuk reset memori dan konsolidasi. Ahli soroti kualitas tidur Indonesia terburuk di Asia. (155 karakter)
JAKARTA, JClarity – Selama bertahun-tahun, tidur hanya dianggap sebagai fase pasif, waktu di mana tubuh dan otak 'dimatikan' untuk sekadar mengisi ulang energi. Namun, sains tidur (sleep science) modern telah mengungkap rahasia yang jauh lebih kompleks: tidur adalah proses neurobiologis yang sangat aktif, vital untuk mengatur ulang fungsi otak, memperkuat memori, dan menjaga kesehatan mental.
Penelitian terbaru dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, misalnya, menyoroti peran tidur nyenyak non-Rapid Eye Movement (NREM) sebagai mekanisme ‘reset’ dinamis bagi otak. Studi yang dipublikasikan pada tahun 2024 menunjukkan bahwa selama fase tidur dalam ini, bagian otak yang dikenal sebagai hippocampus—pusat memori utama—secara selektif meredakan aktivitas neuron untuk menyegarkan kembali sirkuitnya. Proses ini sangat penting. Alih-alih hanya menyimpan memori, otak membersihkan dan mengoptimalkan dirinya agar siap menerima informasi baru saat terbangun.
Lebih lanjut, fase tidur terbagi menjadi dua siklus utama: NREM (tidur tanpa gerakan mata cepat) dan REM (Rapid Eye Movement). Tidur NREM, terutama pada tahap gelombang lambat (slow waves), adalah saat konsolidasi memori jangka panjang berlangsung. Neuron-neuron di hippocampus dan korteks berkomunikasi intensif, mentransfer informasi baru dari penyimpanan sementara ke gudang ingatan permanen. Beberapa temuan bahkan menunjukkan bahwa tidur NREM mampu memperkuat memori kompleks dan menyusun ulang struktur bahasa yang baru dipelajari.
Sementara itu, tidur REM, fase di mana kita paling sering bermimpi, dianggap memiliki peran krusial dalam regulasi emosi dan pemrosesan informasi yang lebih mendalam. Selama REM, otak memutar ulang pola aktivitas yang terjadi saat kita belajar di siang hari, sebuah proses yang memperkuat ingatan episodik dan kemampuan kognitif lainnya.
Konteks penemuan ini menjadi semakin relevan di Indonesia, di mana kualitas tidur masyarakat masih menjadi tantangan serius. Menurut dr. Andreas Prasadja, Dokter Spesialis Kesehatan Tidur (RPSGT), kualitas dan durasi tidur orang Indonesia bahkan disebut sebagai salah satu yang terburuk di Asia, dengan rata-rata durasi hanya sekitar 6 jam 36 menit. Kondisi ini dipicu oleh infrastruktur perkotaan, kemacetan, hingga gaya hidup modern yang didominasi hiburan digital.
“Tidur yang buruk dalam jangka panjang meningkatkan risiko penyakit serius,” tegas dr. Andreas Prasadja, mengingatkan bahwa tidur harus ditempatkan sejajar dengan nutrisi dan olahraga sebagai pilar utama kesehatan. Ketika tidur tidak sehat, tubuh mengalami stres, yang dapat meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung. Oleh karena itu, memahami sains di balik tidur bukan lagi sekadar pengetahuan akademik, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk menjaga produktivitas, konsentrasi, dan kesehatan jangka panjang masyarakat Indonesia.