Pendidikan

Siswa Live TikTok Saat TKA, Pakar Pendidikan: Momen Serius Jadi Ajang Eksistensi

Siswa kedapatan live TikTok saat ujian TKA penting. Pakar pendidikan menilai ini sebagai pergeseran etika, menjadikan momen serius sebagai ajang eksistensi viral. Integritas akademik terancam.

JAKARTA · Sunday, 09 November 2025 04:00 WITA · Dibaca: 55
Siswa Live TikTok Saat TKA, Pakar Pendidikan: Momen Serius Jadi Ajang Eksistensi

JAKARTA, JClarity – Sebuah insiden yang mencoreng integritas akademik kembali mencuat ke publik setelah rekaman seorang siswa melakukan siaran langsung (live) di platform TikTok saat mengikuti Tes Kompetensi Akademik (TKA) menjadi viral. Tindakan ini, yang terekam jelas dan tersebar luas, memicu perdebatan sengit mengenai etika digital di kalangan pelajar dan pergeseran nilai dalam menghadapi momen-momen penting dan serius.

Menanggapi fenomena ini, pakar pendidikan menyoroti adanya pergeseran cara pandang generasi muda terhadap batasan antara ruang privat dan ruang publik. "Momen serius seperti ujian TKA, yang seharusnya menuntut fokus, kejujuran, dan integritas penuh, kini telah direduksi menjadi 'ajang eksistensi' semata," ujar Dr. Santi Paramitha, seorang sosiolog pendidikan dari Universitas terkemuka di Jakarta. Menurut Dr. Santi, dorongan untuk terus-menerus berbagi kehidupan secara daring dan mengejar validasi melalui jumlah penonton atau 'likes' jauh lebih dominan ketimbang kesadaran akan pentingnya proses akademik itu sendiri.

Insiden ini bukan hanya masalah kedisiplinan, melainkan ancaman serius terhadap kredibilitas sistem evaluasi pendidikan. Melakukan siaran langsung saat ujian dapat dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap tata tertib, berpotensi memfasilitasi kecurangan, atau setidaknya mengganggu konsentrasi peserta ujian lain. Pihak penyelenggara tes didorong untuk segera menginvestigasi kasus ini dan menerapkan sanksi tegas yang dapat berfungsi sebagai efek jera, tidak hanya bagi pelaku, tetapi juga bagi seluruh peserta tes di masa mendatang.

Lebih lanjut, analisis menunjukkan bahwa budaya 'live streaming' telah menormalkan penyiaran setiap aktivitas, terlepas dari konteks dan konsekuensinya. Bagi sebagian remaja, absen dari media sosial dalam jangka waktu tertentu, bahkan saat ujian, dianggap sebagai kehilangan momen (FOMO) atau kegagalan dalam memanfaatkan potensi konten viral. Keadaan ini menunjukkan adanya gap antara regulasi sekolah atau lembaga tes dengan realitas kehidupan digital siswa yang terkoneksi 24 jam sehari.

Oleh karena itu, para pengamat pendidikan mendesak perlunya revisi komprehensif terhadap kurikulum dan program bimbingan konseling yang mencakup pendidikan etika digital dan literasi media. Lembaga pendidikan dan orang tua memiliki tanggung jawab kolektif untuk menanamkan pemahaman bahwa integritas, kejujuran, dan penghormatan terhadap proses serius tidak boleh dikalahkan oleh hasrat akan eksistensi sementara di media sosial. "Mendidik siswa untuk membedakan antara kebutuhan eksistensi digital dan kewajiban moral-akademik adalah tantangan terbesar pendidikan saat ini," tutup Dr. Santi.

Login IG