Saham Teknologi Anjlok Tajam: IHSG Terkoreksi 1,5%, Investor Asing Jual Bersih Rp 1,2 T
IHSG anjlok 1,5% dipicu koreksi tajam saham teknologi. Investor asing mencatat jual bersih (net sell) fantastis Rp 1,2 T. Analisis pemicu dan outlook pasar.
Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah signifikan pada perdagangan hari ini, mencatatkan koreksi tajam sebesar 1,5% dan kembali bergerak di bawah level psikologis 6.900. Pelemahan masif ini utamanya dipicu oleh aksi jual besar-besaran, yang secara khusus menargetkan saham-saham unggulan di sektor teknologi.
Sentimen negatif yang melanda pasar global, ditambah kekhawatiran kenaikan suku bunga acuan yang dapat menekan valuasi saham-saham berorientasi pertumbuhan (*growth stocks*), tercermin jelas dari pergerakan investor asing. Berdasarkan data BEI, investor asing membukukan aksi jual bersih (*net foreign sell*) yang fantastis, mencapai Rp 1,2 triliun dalam sehari. Angka ini merupakan catatan jual bersih harian tertinggi dalam kuartal terakhir, mengindikasikan bahwa investor global memilih untuk keluar dari aset berisiko di pasar domestik.
Sektor teknologi menjadi pendorong utama koreksi ini. Sejumlah saham teknologi berkapitalisasi besar (*big caps*) di Indonesia, seperti GOTO, BUKA, dan ARTO, mengalami penurunan harga yang signifikan, bahkan beberapa di antaranya menyentuh batas auto reject bawah (ARB). Analisis pasar menunjukkan bahwa koreksi ini merupakan kombinasi dari aksi ambil untung (*profit taking*) yang agresif setelah reli singkat pada awal bulan, serta respons terhadap laporan kinerja perusahaan teknologi global yang meleset dari ekspektasi.
Ekonom Senior dari Investa Prima Sekuritas, Dr. Asep Setiawan, menilai bahwa tekanan jual ini bersifat sementara namun perlu diwaspadai. “Koreksi 1,5% dan *net sell* Rp 1,2 triliun adalah sinyal kuat adanya rotasi sektor. Investor mungkin mulai beralih ke saham-saham berbasis komoditas atau sektor perbankan yang memiliki fundamental lebih kokoh di tengah potensi inflasi dan suku bunga tinggi,” ujar Dr. Asep.
Meskipun terjadi tekanan hebat, pelemahan tajam ini juga dilihat oleh sebagian analis sebagai peluang beli yang sehat bagi investor jangka panjang. Pasar kini diperkirakan akan berkonsolidasi sambil menanti rilis data ekonomi domestik seperti pertumbuhan PDB dan angka inflasi bulan depan sebagai penentu arah kebijakan moneter Bank Indonesia.