Saham BBCA Turun ke Rp 7.500, Jadi Harga Penutupan Terendah Sepanjang Tahun 2025.
Saham BBCA anjlok ke Rp 7.500, mencetak harga penutupan terendah sepanjang tahun 2025. Penurunan dipicu aksi net sell asing besar-besaran dan perlambatan kredit.
Jakarta, JClarity – Saham emiten perbankan raksasa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan rekor negatif baru setelah harga penutupannya anjlok ke level Rp 7.500 per lembar saham pada penutupan perdagangan Rabu (1/10/2025). Level ini menandai harga penutupan terendah yang pernah dicapai BBCA sepanjang tahun 2025, mematahkan titik terendah sebelumnya di kisaran Rp 7.775 yang sempat tercatat pada April lalu. Penurunan ini mencerminkan koreksi sebesar -1,64% dalam satu hari perdagangan dan menambah tekanan jual yang telah berlangsung signifikan sejak awal tahun.
Tekanan masif pada BBCA utamanya dipicu oleh aksi jual bersih (net sell) yang sangat deras dari investor asing. Berdasarkan data pasar, aliran modal asing keluar (capital outflow) dari saham BBCA telah mencapai Rp 9,04 triliun sepanjang bulan September 2025 saja, menjadikannya saham dengan penjualan bersih asing terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sentimen jual asing ini tidak hanya membebani BBCA, tetapi juga sektor perbankan unggulan lainnya dan turut memperlemah kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Secara fundamental, beberapa faktor internal dan eksternal disinyalir menjadi penyebab utama lesunya saham bank swasta terbesar di Tanah Air ini. Faktor internal meliputi perlambatan penyaluran kredit yang hanya tumbuh satu digit hingga Agustus 2025, berbeda dengan periode sebelumnya yang lebih agresif. Selain itu, peningkatan signifikan pada beban provisi bank akibat kekhawatiran kualitas aset juga menjadi perhatian investor, menekan growth laba BBCA yang hanya bertumbuh satu digit sampai dengan Agustus 2025.
Sementara itu, sentimen global dan domestik turut memperburuk kondisi. Pasar masih mencoba menyesuaikan diri pasca perubahan kebijakan moneter di Amerika Serikat (The Fed) dan dampak penyesuaian suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang telah turun lima kali hingga September 2025. Di sisi domestik, sentimen dari gejolak politik, termasuk isu reshuffle besar-besaran di Kabinet Merah Putih yang sempat menekan IHSG, memberikan nuansa ketidakpastian bagi pasar modal. Secara teknikal, koreksi ini telah memicu sinyal bearish yang kuat, menempatkan BBCA di kondisi mendekati oversold.
Meskipun demikian, BBCA tetap diakui sebagai saham blue chip dengan fundamental yang solid dan likuiditas tinggi. Analis mencatat bahwa valuasi BBCA, yang meski masih premium, berada dalam rentang harga yang dianggap mulai menarik untuk dicermati kembali oleh investor jangka panjang. Beberapa sekuritas bahkan merekomendasikan strategi hold atau buy on weakness (beli saat melemah) mengingat kapitalisasi pasar BBCA yang besar dan posisinya yang stabil di tengah tekanan sektor perbankan. Investor disarankan untuk bersikap defensif dan memperhatikan area support psikologis, sembari menunggu laporan perolehan laba kuartal berikutnya yang dijadwalkan rilis pada pertengahan Oktober 2025.