Saham BBCA Anjlok ke Rp7.500, Catat Harga Penutupan Terendah Sepanjang 2025.
Saham BBCA ditutup pada Rp7.500 pada 1 Oktober 2025, mencatat harga penutupan terendah tahun ini. Ini terjadi meski fundamental bank kuat, di tengah sentimen pasar negatif.
JAKARTA, JClarity – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat rekor harga penutupan terendah sepanjang tahun 2025. Pada penutupan perdagangan Rabu (1/10/2025), harga saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut anjlok dan ditutup pada level Rp7.500 per saham, melemah -1,64% dalam sehari dan menandai harga penutupan terendah tahun ini.
Koreksi ini melanjutkan tekanan jual yang telah berlangsung, di mana sepanjang tahun 2025, saham BBCA telah terperosok sekitar 22,48%. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen pasar yang kurang kondusif bagi sektor perbankan, meskipun BBCA dikenal memiliki fundamental yang kokoh. Dalam delapan bulan pertama tahun 2025, laba bersih BCA (bank *only*) tercatat mencapai Rp39,06 triliun, tumbuh 8,52% secara tahunan (YoY), kinerja yang dinilai lebih baik dibandingkan mayoritas bank besar (big banks) lainnya yang justru mengalami tekanan laba.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyebutkan bahwa kinerja fundamental BCA sejatinya masih terbilang aman. Namun, pergerakan sahamnya sedang diuji oleh kondisi ekonomi makro yang kurang baik. Adanya relokasi dana investor ke sektor lain yang dianggap lebih menarik juga menjadi salah satu faktor yang menekan harga saham bank.
Di sisi lain, analis tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang BBCA. Konsensus analis yang dihimpun Bloomberg masih merekomendasikan sikap beli (buy) terhadap saham BBCA, dengan target harga rata-rata mencapai Rp10.824 per saham. Angka ini menyiratkan potensi kenaikan sekitar 43% dari posisi penutupan saat ini. Valuasi BBCA di bawah level Rp8.000 dinilai sudah murah, bahkan mendekati level harga setelah aksi korporasi *stock split* pada tahun 2021.
Kekuatan fundamental BBCA terlihat dari struktur modal yang kuat, likuiditas yang longgar dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) di bawah 80%, serta efisiensi biaya yang terjaga. Rasio *Cost to Income Ratio* (CIR) berhasil diturunkan menjadi 29,1% pada Semester I-2025. Para analis memproyeksikan, dengan fundamental yang kokoh, BBCA memiliki potensi pemulihan yang kuat pada tahun berikutnya, terutama jika kondisi makroekonomi membaik.