Rupiah Tertekan Penguatan Dolar AS, Waspadai Potensi Risiko Jatuh ke Level Rp 17.000.
Rupiah ditutup melemah ke Rp 16.736/US$ (20/11/2025). Analis mewaspadai risiko tembus Rp 17.000 akibat penguatan Dolar AS dan tekanan domestik. BI pertahankan suku bunga 4,75%.
JAKARTA, JClarity – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terus menghadapi tekanan signifikan, memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi mata uang Garuda jatuh ke level psikologis Rp 17.000 per Dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dari penguatan Dolar AS dan faktor-faktor domestik.
Berdasarkan data perdagangan Kamis (20/11/2025), Rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,17% ke level Rp 16.736 per Dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia juga mencatat pelemahan ke posisi Rp 16.742 per Dolar AS. Pada waktu yang sama, Indeks Dolar AS (DXY) tercatat menguat, mencerminkan dominasi greenback di pasar global.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai level Rp 16.700 per Dolar AS kini menjadi batas psikologis yang diawasi ketat oleh otoritas moneter. "Level Rp 16.700 per Dolar AS menjadi perhatian bagi BI, mendekati Rp 17.000. Ada buffer Rp 300 agar tidak menembus Rp 17.000 yang bisa memberikan sentimen semakin membebani," ujar Lukman. Ia memproyeksikan pergerakan Rupiah berpotensi berada di kisaran Rp 16.500—Rp 17.000 per Dolar AS hingga akhir tahun 2025.
Tekanan eksternal terutama bersumber dari ketidakpastian kebijakan moneter di AS. Penguatan Dolar AS didorong oleh meredanya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed) di Desember, menyusul sinyal sikap yang cenderung "hawkish". Selain itu, tertundanya rilis data penting ekonomi AS seperti Nonfarm Payrolls (NFP) akibat penutupan pemerintahan sebelumnya juga menciptakan volatilitas dan kehati-hatian di pasar global.
Secara domestik, kekhawatiran pasar juga muncul terkait dengan kebijakan fiskal pemerintah yang ekspansif, yang dikhawatirkan dapat memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sentimen negatif juga datang dari penurunan Cadangan Devisa Bank Indonesia (BI) dari US$ 150,7 miliar pada Agustus 2025 menjadi US$ 148,7 miliar pada akhir September 2025, serta melemahnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
Menghadapi tekanan ini, Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 November 2025 memutuskan untuk mempertahankan Suku Bunga Acuan (BI-Rate) di level 4,75%. Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan jangka pendek BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan menarik aliran masuk investasi portofolio asing di tengah tingginya ketidakpastian global.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa BI terus memperkuat kebijakan stabilisasi melalui intervensi di pasar spot, transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, dan Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri. Intervensi ini disertai dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk meredam tekanan nilai tukar. Namun, para analis mengingatkan bahwa dominasi sentimen global masih menjadi penentu utama pergerakan Rupiah ke depan.