Rupiah Terkapar Lawan Dolar AS, Yen dan Won Lebih Parah.
Rupiah terkapar melawan Dolar AS, namun Yen Jepang dan Won Korea Selatan melemah lebih parah. Dipicu 'higher for longer' The Fed dan divergensi kebijakan moneter Asia.
JAKARTA, JClarity – Nilai tukar Rupiah kembali melemah tajam terhadap Dolar AS pada perdagangan awal pekan, namun kinerja mata uang Garuda ini masih menunjukkan resiliensi relatif dibandingkan dua mata uang utama Asia lainnya, Yen Jepang dan Won Korea Selatan, yang mencatatkan depresiasi lebih dalam. Rupiah sempat menyentuh level kritis Rp15.950 per Dolar AS, namun Yen dan Won mengalami ‘terkapar’ yang lebih parah, dipicu oleh divergensi kebijakan moneter global dan sentimen risiko yang meningkat.
Pada penutupan perdagangan, Rupiah tercatat melemah sekitar 0,4% di level Rp15.940. Tekanan ini dipicu oleh penguatan indeks Dolar AS (DXY) yang kembali menembus level 107, didorong oleh data ekonomi AS yang solid dan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi (higher for longer). Bank Indonesia (BI) dilaporkan melakukan intervensi ganda di pasar spot dan pasar obligasi untuk menopang nilai tukar, namun arus modal keluar tetap menjadi tantangan utama.
Kinerja Rupiah yang relatif lebih baik teruji ketika dibandingkan dengan mata uang negara maju Asia. Yen Jepang (JPY) anjlok hingga menembus batas psikologis ¥155 per Dolar AS, mencapai level terlemah dalam tiga dekade terakhir. Pelemahan ekstrem ini diakibatkan oleh Bank of Japan (BoJ) yang masih mempertahankan kebijakan suku bunga ultra-rendah (dovish) meskipun inflasi domestik mulai meningkat. Kesenjangan suku bunga yang sangat lebar antara AS dan Jepang memicu aksi jual Yen secara masif.
Senada dengan Yen, mata uang Won Korea Selatan (KRW) juga bernasib buruk, mendekati level Rp1.400 per Dolar AS. Korea Selatan yang merupakan negara eksportir besar, sangat sensitif terhadap perlambatan ekonomi global dan kenaikan harga energi. Analis menilai, selain sentimen Dolar AS yang kuat, posisi Won juga tertekan oleh kekhawatiran geopolitik di kawasan tersebut, menjadikannya salah satu mata uang yang paling rentan di Asia.
Kepala Ekonom Samuel Sekuritas, Lana Setiawan, menyatakan bahwa tren pelemahan ini adalah fenomena global yang dipimpin oleh The Fed. "Semua mata uang, termasuk Rupiah, berada di bawah tekanan dari King Dollar. Namun, Rupiah masih memiliki fundamental yang ditopang oleh surplus neraca perdagangan, sementara Yen dan Won tidak memiliki bantalan serupa dalam hal kebijakan moneter domestik," ujarnya.
Ke depan, volatilitas nilai tukar diperkirakan akan berlanjut. Fokus pasar akan beralih ke rilis data Non-Farm Payrolls AS dan Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed. Pemerintah dan BI diimbau untuk terus menjaga stabilitas pasar melalui koordinasi kebijakan moneter dan fiskal, terutama untuk mengamankan kebutuhan impor strategis seperti energi dan pangan.