Keuangan

Rupiah Tendang Dolar AS, Pimpin Penguatan Mata Uang di Asia!

Rupiah menguat tajam terhadap Dolar AS dan memimpin penguatan di Asia. Didorong intervensi BI, sentimen positif global, dan data ekonomi domestik yang solid. (152 karakter)

JAKARTA · Tuesday, 07 October 2025 08:00 WITA · Dibaca: 42
Rupiah Tendang Dolar AS, Pimpin Penguatan Mata Uang di Asia!

JAKARTA, JClarity – Nilai tukar Rupiah (IDR) melaju kencang, sukses 'menendang' laju Dolar AS (USD) dan memimpin penguatan signifikan di antara mata uang utama Asia. Pada perdagangan awal pekan, Selasa (7/10/2025), Rupiah berhasil mengapresiasi hingga menyentuh level kunci, didorong oleh sentimen positif pasar domestik dan meredanya tekanan dari kebijakan moneter global.

Berdasarkan data perdagangan antar bank, Rupiah ditutup menguat tajam, mendekati level psikologis Rp15.500 per Dolar AS. Laju penguatan harian Rupiah tercatat melampaui 0,65% terhadap Greenback, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan Asia. Kinerja impresif ini mengungguli penguatan mata uang regional lain seperti Won Korea, Ringgit Malaysia, dan bahkan Dolar Taiwan yang hanya mencatat kenaikan moderat.

Analis pasar keuangan menilai penguatan fantastis Rupiah ini adalah hasil kombinasi dari intervensi terukur oleh Bank Indonesia (BI) dan berlanjutnya optimisme investor asing terhadap aset di pasar negara berkembang (emerging market). Kebijakan suku bunga acuan BI yang tetap berada di level kompetitif terbukti efektif menarik arus modal asing, terutama ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia, yang memberikan imbal hasil menarik.

Gubernur BI dalam keterangan persnya menekankan komitmen otoritas moneter untuk terus menstabilkan nilai tukar Rupiah, menjaganya agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi. Selain itu, data neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencetak surplus besar pada bulan sebelumnya, kian memperkuat fundamental Rupiah karena menunjukkan soliditas arus kas masuk devisa dari sektor riil.

Secara eksternal, sentimen global juga turut andil. Peluang Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat untuk menahan laju kenaikan suku bunga, atau bahkan memicu spekulasi 'pivot' kebijakan moneter yang lebih dovish, telah mengurangi permintaan global terhadap Dolar AS yang selama ini dianggap sebagai aset 'safe-haven'. Kondisi ini secara langsung memicu pergeseran modal kembali ke mata uang berisiko tinggi (risk-on) seperti Rupiah.

Para ekonom memproyeksikan, jika sentimen positif ini terus berlanjut dan data inflasi domestik tetap terkendali, Rupiah berpotensi menguji level dukungan kuat di kisaran Rp15.500 dalam jangka pendek. Namun, mereka juga mewanti-wanti potensi volatilitas yang masih bisa timbul dari perkembangan geopolitik global yang dinamis.

Login IG