Rupiah Tembus Rp16.500 per Dolar AS, Analis Soroti Intervensi BI yang 'Terbatas'
Pelemahan Rupiah melewati Rp16.500/USD disorot analis. Mereka menilai intervensi BI terbatas menghadapi tekanan global dan Dolar AS yang kuat. Analis soroti biaya intervensi yang tinggi.
Jakarta, JClarity – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS kembali menyentuh level psikologis yang kritis, menembus angka Rp16.500 per Dolar AS. Laju pelemahan ini memicu kekhawatiran pelaku pasar, terutama setelah sejumlah analis menyoroti efektivitas dan keterbatasan intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) dalam menahan arus tekanan global.
Berdasarkan data pasar uang terkini, Rupiah sempat diperdagangkan di level Rp16.525 pada penutupan sesi perdagangan [tanggal terkini/sesuai konteks]. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang didorong oleh sentimen risk-off global, seiring dengan spekulasi peningkatan suku bunga The Federal Reserve AS yang bertahan lebih lama (higher for longer).
Ekonom dari [Nama Lembaga Keuangan/Riset Fiktif] menyatakan bahwa tekanan jual di pasar valuta asing telah menjadi tantangan berat. "Intervensi yang dilakukan oleh BI, termasuk melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN, bersifat terbatas. BI tidak bisa sendirian melawan arus Dolar yang super kuat tanpa menguras cadangan devisa secara signifikan," ujar [nama Analis/Jabatan Fiktif]. Ia menambahkan bahwa pelemahan ini lebih didominasi oleh faktor eksternal, yakni penguatan Indeks Dolar AS (DXY) dan tingginya imbal hasil obligasi AS (US Treasury Yield), daripada fundamental domestik.
Sorotan terhadap keterbatasan intervensi ini juga muncul karena pasar melihat BI harus berhati-hati dalam penggunaan cadangan devisa. Meskipun cadangan devisa Indonesia masih dianggap memadai, penggunaan yang agresif dan berkelanjutan untuk menstabilkan kurs akan menimbulkan risiko bagi kepercayaan investor terhadap ketahanan ekonomi makro jangka panjang.
Menanggapi tekanan pasar, BI telah menegaskan komitmennya untuk berada di pasar (SBN dan valas) guna menjaga stabilitas kurs sesuai dengan fundamentalnya. Namun, pasar kini menanti langkah kebijakan moneter yang lebih agresif, termasuk kemungkinan pertimbangan kembali untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebagai langkah pre-emptive, alih-alih hanya mengandalkan instrumen intervensi yang biayanya semakin mahal.
Ke depan, prospek Rupiah akan sangat bergantung pada data inflasi dan keputusan kebijakan suku bunga The Fed. Analis merekomendasikan koordinasi kebijakan yang lebih erat antara otoritas moneter dan fiskal, termasuk upaya menjaga daya tarik imbal hasil SBN agar dana asing tetap bertahan di pasar domestik, sebagai kunci untuk meredam volatilitas kurs lebih lanjut.