Rupiah Tembus Rp15.800/US$: Tiga Sentimen Pemicu Tekanan Kurs di Akhir Bulan
Rupiah anjlok menembus Rp15.800/US$ dan mendekati Rp16.700 di akhir bulan. Tiga sentimen utama pemicu adalah The Fed, permintaan korporasi, dan geopolitik.
Jakarta, JClarity – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (US$) kembali berada di bawah tekanan signifikan menjelang penutupan bulan. Pada penutupan perdagangan Kamis (30/10/2025), Rupiah terkoreksi, menembus level psikologis penting dan ditutup di sekitar Rp16.635 per US$ di pasar spot. Level ini menunjukkan peningkatan intensitas pelemahan Rupiah yang sebelumnya telah melewati ambang batas Rp15.800/US$. Terdapat setidaknya tiga sentimen utama yang menjadi pemicu lonjakan tekanan kurs mata uang Garuda tersebut di penghujung bulan.
Koreksi ini terjadi di tengah gejolak pasar keuangan global yang semakin tidak menentu. Meskipun Bank Indonesia (BI) telah berulang kali menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar, arus modal keluar dan tingginya permintaan valas domestik memperburuk situasi. Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyebut bahwa investasi portofolio mencatat net outflow yang memaksa BI melakukan intervensi guna menjaga stabilitas Rupiah.
Sentimen Pemicu 1: Narasi 'Higher for Longer' The Fed
Pemicu utama pelemahan Rupiah datang dari faktor eksternal, yakni menguatnya ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS) yang akan bertahan lebih lama (higher for longer). Sikap hawkish dari Federal Reserve (The Fed) didukung oleh data ekonomi AS yang relatif kuat, memicu penguatan Dolar AS (DXY) secara global dan menciptakan lingkungan risk-off. Kondisi ini meningkatkan daya tarik aset-aset berdenominasi Dolar, memicu investor global untuk menarik dana dari pasar negara berkembang seperti Indonesia, yang terlihat dari keluarnya modal asing (outflow) dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham domestik.
Sentimen Pemicu 2: Permintaan Korporasi Musiman Akhir Bulan
Tekanan terhadap Rupiah juga diperburuk oleh faktor musiman di akhir bulan. Secara rutin, terjadi lonjakan permintaan Dolar AS dari korporasi domestik untuk keperluan pembayaran utang luar negeri dan kebutuhan impor. Kebutuhan rutin ini, yang biasanya meningkat signifikan menjelang penutupan buku bulanan, secara alami mengurangi pasokan Dolar di pasar domestik, sehingga mendorong kenaikan kurs Rupiah. Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menyebut pelemahan yang terjadi wajar karena adanya peningkatan permintaan dolar secara musiman untuk kebutuhan bayar bunga utang luar negeri maupun impor.
Sentimen Pemicu 3: Gejolak Harga Komoditas dan Ketegangan Geopolitik
Faktor risiko geopolitik global, terutama yang berkaitan dengan ketegangan di Timur Tengah, turut memberikan kontribusi pada tekanan kurs. Gejolak ini mendorong kenaikan harga komoditas strategis, khususnya minyak mentah. Kenaikan harga minyak secara langsung meningkatkan biaya impor energi Indonesia. Sebagai negara yang masih memiliki ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan energi dan bahan baku, peningkatan harga komoditas berarti kebutuhan Dolar AS untuk pembayaran impor semakin besar, yang pada akhirnya menekan ketersediaan valas di dalam negeri.
Untuk meredam tekanan ini, Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi melalui intervensi terukur, termasuk di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF) domestik maupun off-shore (Triple Intervention). Selain itu, optimalisasi mekanisme Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) juga terus didorong guna meningkatkan suplai valuta asing dan menjaga stabilitas Rupiah di tengah badai ketidakpastian global.