Keuangan

Rupiah Tembus Batas Psikologis Rp16.500 per Dolar AS, BI Intervensi dengan Jual SBN di Pasar Sekunder

Rupiah menembus batas psikologis Rp16.500/USD akibat sentimen global. BI merespons dengan intervensi, fokus menjual SBN di pasar sekunder untuk stabilisasi.

Jakarta · Saturday, 04 October 2025 05:00 WITA · Dibaca: 32
Rupiah Tembus Batas Psikologis Rp16.500 per Dolar AS, BI Intervensi dengan Jual SBN di Pasar Sekunder

Jakarta, JClarity – Nilai tukar Rupiah kembali berada di bawah tekanan hebat, menembus batas psikologis krusial di level Rp16.500 per Dolar AS pada perdagangan hari ini. Tekanan ini dipicu oleh sentimen global yang kuat, terutama terkait tingginya suku bunga Federal Reserve AS yang terus diperkirakan bertahan di level tinggi (higher for longer) dan tingginya permintaan dolar AS global sebagai aset safe haven.

Berdasarkan data pasar spot, Rupiah sempat menyentuh level terlemahnya hari ini di Rp16.5XX,XX per Dolar AS, sebelum akhirnya sedikit terkoreksi namun tetap bertahan di atas batas Rp16.500. Pelemahan signifikan ini sontak membuat Bank Indonesia (BI) mengambil langkah cepat dan terukur melalui operasi yang dikenal sebagai 'triple intervention' untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, dalam keterangan resminya, menyatakan bahwa intervensi kali ini difokuskan pada penjualan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini bertujuan ganda: pertama, untuk menarik likuiditas Rupiah dari pasar, yang secara teori akan mengurangi dana yang dapat digunakan untuk membeli Dolar AS; dan kedua, untuk menstabilkan imbal hasil (yield) SBN yang cenderung meningkat tajam akibat tekanan jual.

Penjualan SBN di pasar sekunder merupakan instrumen kuat yang digunakan BI untuk mengirim sinyal kuat kepada pelaku pasar bahwa bank sentral tidak akan membiarkan gejolak nilai tukar berlanjut tanpa kendali. Tindakan ini juga sejalan dengan komitmen BI untuk melakukan koordinasi erat dengan Pemerintah melalui bauran kebijakan fiskal dan moneter.

Analis pasar dari sebuah lembaga riset terkemuka menilai bahwa pelemahan Rupiah adalah konsekuensi logis dari tingginya ketidakpastian global dan arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. "Meskipun intervensi BI berhasil menahan laju pelemahan, akar masalahnya, yaitu suku bunga AS dan ketegangan geopolitik, masih ada. Rupiah akan terus sensitif terhadap data ekonomi AS yang akan datang," ujar analis tersebut.

Meskipun demikian, BI memastikan bahwa cadangan devisa Indonesia saat ini berada di posisi yang memadai untuk mendukung upaya intervensi dan menjaga stabilitas makroekonomi. Pasar kini menanti respons The Fed selanjutnya dan bagaimana Pemerintah Indonesia merespons tekanan ini melalui kebijakan fiskal, seperti pengendalian impor dan percepatan devisa hasil ekspor (DHE).

Login IG