Rupiah 'Tancap Gas' Pagi Ini, Menguat ke Level Rp16.710 per Dolar AS
Rupiah menguat tajam (tancap gas) pagi ini, mencapai Rp16.710 per Dolar AS. Analis sebut sentimen The Fed dan intervensi Bank Indonesia jadi pendorong utama.
Jakarta, JClarity – Nilai tukar (kurs) Rupiah terpantau ‘tancap gas’ pada perdagangan awal hari ini, Jumat (19/12), menunjukkan kinerja impresif di tengah sentimen pasar yang membaik. Berdasarkan data perdagangan pasar spot *Bloomberg* pada pukul 09.30 WIB, Rupiah menguat signifikan, mencapai level Rp16.710 per Dolar AS.
Penguatan ini merefleksikan apresiasi sebesar sekitar 0,25% dari posisi penutupan Kamis (18/12) yang berada di level Rp16.752 per Dolar AS. Kinerja mata uang Garuda ini berhasil membalikkan tren pelemahan yang sempat terjadi pada penutupan perdagangan sesi sebelumnya, menandai respons positif pelaku pasar terhadap perkembangan ekonomi domestik dan global.
Analis Pasar Valuta Asing dari PT J-Clarity Sekuritas, Dr. Asep Sutrisno, menyebutkan bahwa penguatan Rupiah pagi ini dipicu oleh dua faktor utama. “Pertama, meredanya kekhawatiran pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS) yang mulai menunjukkan sinyal pendinginan, meningkatkan ekspektasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan menahan laju atau bahkan mempertimbangkan pemangkasan suku bunga lebih cepat dari yang diproyeksikan,” jelas Dr. Asep.
Ia melanjutkan, faktor kedua yang sangat krusial adalah aksi stabilisasi dan intervensi yang berkelanjutan dari Bank Indonesia (BI). “Komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi *spot* maupun *forward guidance* telah memberikan kepastian likuiditas yang dibutuhkan pasar menjelang akhir tahun fiskal, sehingga mengurangi tekanan jual terhadap Rupiah secara signifikan,” tambahnya.
Kendati berhasil mencapai level penguatan harian, pelaku pasar tetap mewaspadai potensi volatilitas yang tinggi mengingat kondisi geopolitik global yang belum sepenuhnya stabil. Dalam jangka pendek, Rupiah diproyeksikan berpotensi menguji batas *support* psikologis di level Rp16.700 per Dolar AS, namun jika tekanan eksternal kembali meningkat, Rupiah berpotensi terkonsolidasi di rentang Rp16.700 hingga Rp16.800 per Dolar AS.