Rupiah Merosot ke Rp16.581 per Dolar AS Pagi Ini.
Rupiah Indonesia tertekan tajam pagi ini, mencapai Rp16.581 per Dolar AS, level terlemah baru di tengah sentimen *higher for longer* The Fed AS dan arus modal keluar. BI diprediksi intervensi.
Jakarta, JClarity – Nilai tukar Rupiah Indonesia kembali tertekan di awal perdagangan hari ini, menembus batas psikologis penting di tengah sentimen pasar global yang cenderung *risk-off*. Berdasarkan data perdagangan pagi yang dipantau dari Bloomberg/Refinitiv, Rupiah melemah tajam hingga mencapai level Rp16.581 per Dolar AS.
Pelemahan ini terjadi setelah Rupiah pada penutupan perdagangan hari sebelumnya berada di kisaran Rp16.525 per Dolar AS. Tekanan jual yang masif di pasar valuta asing domestik mendorong mata uang Garuda untuk terdepresiasi sekitar 0,34% hingga pukul 09:30 WIB. Level Rp16.581 ini merupakan titik terlemah baru dalam beberapa periode terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan eksportir.
Analisis pasar menunjukkan bahwa pemicu utama depresiasi Rupiah adalah prospek suku bunga Amerika Serikat yang tinggi dalam jangka waktu lebih lama (*higher for longer*). Data ekonomi AS yang solid baru-baru ini memperkuat spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuan pada level restriktif, yang pada gilirannya membuat imbal hasil obligasi *Treasury* AS melonjak. Kondisi ini meningkatkan daya tarik aset berbasis Dolar AS dan memicu arus modal keluar (*capital outflow*) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain faktor eksternal, defisit transaksi berjalan yang berpotensi melebar serta permintaan Dolar AS dari korporasi untuk pembayaran utang dan impor di akhir bulan juga turut berkontribusi terhadap tekanan nilai tukar. Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan mata uang Paman Sam terhadap enam mata uang utama lainnya juga tercatat menguat, menambah beban bagi Rupiah.
Menanggapi volatilitas ini, Bank Indonesia (BI) diprediksi kembali melakukan intervensi ganda untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dilakukan baik di pasar spot valuta asing maupun melalui mekanisme *Domestic Non-Deliverable Forward* (DNDF). Gubernur BI sebelumnya telah menegaskan komitmen bank sentral untuk berada di pasar guna menanggulangi pergerakan Rupiah yang terlalu volatil atau tidak wajar. Kebijakan moneter BI akan tetap fokus pada stabilitas, termasuk melalui kebijakan suku bunga acuan yang pro-stabilitas.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data ekonomi domestik dan perkembangan geopolitik global, terutama terkait harga komoditas dan konflik regional yang dapat mempengaruhi sentimen risiko. Tanpa adanya sinyal perubahan kebijakan signifikan dari The Fed, tekanan terhadap Rupiah diperkirakan masih akan berlanjut, meskipun intervensi BI diharapkan dapat membatasi pelemahan lebih dalam.