Keuangan

Rupiah Menguat ke Rp16.618 per Dolar AS Pagi Ini, Stabilkan Perdagangan.

Rupiah (IDR) menguat tajam terhadap Dolar AS (USD) ke level Rp16.618 pagi ini. Kinerja positif didukung sentimen domestik dan intervensi Bank Indonesia, stabilkan pasar valas.

Jakarta · Tuesday, 28 October 2025 11:00 WITA · Dibaca: 58
Rupiah Menguat ke Rp16.618 per Dolar AS Pagi Ini, Stabilkan Perdagangan.

Jakarta, JClarity – Nilai tukar Rupiah (IDR) menunjukkan kinerja positif pada pembukaan perdagangan pasar spot hari ini, bergerak menguat signifikan terhadap Dolar Amerika Serikat (USD). Berdasarkan pantauan data pasar hingga pagi hari, Rupiah tercatat berada pada level Rp16.618 per Dolar AS. Penguatan ini menandai koreksi positif dari penutupan sebelumnya dan memberikan sinyal stabilisasi yang dinantikan oleh para pelaku pasar domestik.

Kenaikan kurs Rupiah ke level psikologis baru ini dinilai sebagai respons terhadap serangkaian kebijakan moneter terukur yang dijalankan oleh Bank Indonesia (BI). Intervensi 'triple intervention' yang dilakukan BI di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar surat berharga, berhasil meredam tekanan jual yang sempat mendera mata uang Garuda dalam beberapa waktu terakhir.

Analis pasar dari PT Cipta Investama Sekuritas, Risa Pramesti, menilai bahwa penguatan ini juga didorong oleh optimisme domestik dan melemahnya sentimen Dolar AS secara global. “Data ekonomi domestik yang relatif solid, terutama surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan, menciptakan fundamental yang lebih kokoh. Selain itu, adanya koreksi pada yield obligasi Treasury AS pasca rilis data inflasi Paman Sam yang tidak seburuk perkiraan, turut memberikan ruang bagi mata uang Asia, termasuk Rupiah, untuk menguat,” jelas Risa.

Stabilitas nilai tukar pada level Rp16.618 per Dolar AS sangat krusial bagi sektor perdagangan dan industri. Tingkat kurs yang lebih stabil meminimalisir ketidakpastian biaya impor bahan baku, yang pada gilirannya dapat menahan laju inflasi yang diimpor (imported inflation) serta menjaga margin keuntungan perusahaan. Kondisi ini juga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia.

Meskipun terjadi penguatan, para pelaku pasar tetap disarankan untuk mempertahankan kewaspadaan. Risiko eksternal dari perubahan kebijakan suku bunga The Federal Reserve AS (The Fed) dan perkembangan tensi geopolitik global masih menjadi faktor dominan yang dapat memicu fluktuasi nilai tukar. Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI mendatang untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga acuan.

Login IG