Rupiah Menguat 5 Hari Beruntun di Tengah Tekanan Atas Dolar AS, Kamis (2/10)
Rupiah catat penguatan 5 hari beruntun, ditutup di Rp16.580/US$ (spot) Kamis (2/10/2025). Penguatan didorong pelemahan Dolar AS akibat US Government Shutdown dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.
JAKARTA, JClarity – Nilai tukar Rupiah (IDR) melanjutkan tren positifnya di hadapan Dolar Amerika Serikat (AS), mencatatkan penguatan selama lima hari perdagangan beruntun hingga penutupan Kamis (2/10/2025).
Mengutip data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup perkasa di level Rp16.580 per Dolar AS, terapresiasi 0,12% dari penutupan hari sebelumnya. Sementara itu, di pasar spot, Rupiah juga ditutup menguat 0,22% ke posisi Rp16.598 per Dolar AS. Penguatan Rupiah yang telah berlangsung sejak 26 September 2025 ini sekaligus menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di Asia pada perdagangan hari ini. Sejalan dengan itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan penguatan signifikan, naik 0,41% menjadi Rp16.612 per Dolar AS.
Penguatan tajam Rupiah ini didorong oleh tekanan masif yang sedang dihadapi Greenback di pasar global, yang utamanya dipicu oleh perkembangan politik di AS. Tekanan terhadap Dolar AS kian terasa menyusul dimulainya government shutdown atau penutupan pemerintahan federal AS sejak 1 Oktober 2025, akibat kebuntuan politik antara Presiden Donald Trump dan oposisi Demokrat terkait anggaran fiskal 2026. Kondisi ini telah menyebabkan gangguan pada sejumlah operasi federal dan merumahkan sekitar 750 ribu pegawai federal, menimbulkan kekhawatiran pasar akan prospek ekonomi AS ke depan.
Selain ketidakpastian politik, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), juga turut menekan Dolar AS. Pelaku pasar kini meningkatkan probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed setelah data penggajian sektor swasta menunjukkan pendinginan lebih lanjut di pasar tenaga kerja AS. Kondisi ini tercermin dari pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) yang berada di zona merah, terkoreksi sekitar 0,14% ke level 97,565 per pukul 15.00 WIB.
Dari sisi domestik, sentimen positif yang menyokong ketahanan Rupiah berasal dari fondasi ekonomi Indonesia yang tetap solid. Data surplus neraca perdagangan pada September 2025 yang mencapai US$5,49 miliar, didorong oleh impor yang lebih lemah, memberikan pandangan positif terhadap kondisi neraca berjalan. Selain itu, inflasi tahunan Indonesia yang masih terkendali di angka 2,65% turut memperkuat optimisme pasar. Bank Indonesia pun menjamin akan terus melakukan intervensi secara 'bold', baik di pasar domestik maupun offshore, untuk menjaga stabilitas pergerakan Rupiah.
Analis mata uang memproyeksikan, meskipun pergerakan Rupiah pada hari perdagangan berikutnya, Jumat (3/10/2025), diperkirakan akan fluktuatif, namun Rupiah memiliki potensi untuk ditutup menguat di kisaran Rp16.560 hingga Rp16.600 per Dolar AS, melanjutkan momentum pelemahan Dolar AS.