Keuangan

Rupiah Melemah Pagi Ini, Makin Dekat dengan Rp17 Ribu per Dolar.

Rupiah pagi ini melemah mendekati Rp17.000 per Dolar AS, dipicu oleh ketidakpastian kebijakan The Fed AS, arus modal keluar, dan sentimen global yang memburuk.

Jakarta · Tuesday, 18 November 2025 18:00 WITA · Dibaca: 30
Rupiah Melemah Pagi Ini, Makin Dekat dengan Rp17 Ribu per Dolar.

JAKARTA, JClarity – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak di zona merah pada perdagangan pagi ini, Selasa (18/11/2025), memperpanjang tren depresiasi yang menempatkan mata uang Garuda semakin mendekati level psikologis Rp17.000 per Dolar AS.

Berdasarkan data perdagangan, pada pembukaan sesi pagi, Rupiah langsung mengalami tekanan. Di pasar spot, mata uang Indonesia sempat menyentuh titik terlemah intraday di level sekitar Rp16.763 per Dolar AS, sebelum ditutup melemah di posisi Rp16.751 per Dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) tercatat berada di level Rp16.760 per Dolar AS, melemah 26 poin dari posisi penutupan sebelumnya. Tekanan ini menggarisbawahi kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian global yang masih membayangi.

Pelemahan Rupiah ini didorong oleh dominasi sentimen eksternal. Salah satu pemicu utamanya adalah ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Pernyataan dari beberapa pejabat The Fed yang mengisyaratkan perlunya mempertahankan suku bunga tetap tinggi atau menyuarakan kekhawatiran tentang inflasi AS membuat pasar kembali memperkirakan pelonggaran moneter akan tertunda. Hal ini mendorong penguatan Dolar AS yang bertindak sebagai aset safe haven di tengah gejolak pasar.

Selain itu, arus modal asing dilaporkan masih cenderung keluar dari pasar keuangan domestik, khususnya dari pasar Surat Berharga Negara (SBN), yang turut memberikan tekanan jual terhadap Rupiah. Sentimen global diperparah dengan ketegangan geopolitik yang terus berlanjut, yang secara umum membuat mata uang negara berkembang bergerak defensif.

Merespons situasi ini, pasar keuangan domestik juga tengah menantikan keputusan penting dari Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang berlangsung pada 18-19 November 2025. Spekulasi mengenai apakah BI akan mempertahankan suku bunga acuan atau mengambil langkah kebijakan lain menjadi fokus pelaku pasar untuk melihat komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Sejumlah analis menilai, meski Rupiah berada dalam tekanan, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid, didukung oleh inflasi yang terkendali dan surplus neraca dagang yang berkelanjutan, yang menjadi bantalan penting bagi intervensi BI.

Level Rp17.000 per Dolar AS kini menjadi batas psikologis yang semakin krusial untuk dicermati. Meskipun kurs spot berada di bawah level tersebut, pasar Non-Deliverable Forward (NDF) sebelumnya pernah mencatatkan level hingga melampaui Rp17.000, mengindikasikan potensi pelemahan lebih lanjut jika sentimen negatif global terus berlanjut tanpa adanya sinyal perubahan kebijakan yang kuat.

Login IG