Rupiah Melemah ke Rp16.629 per Dolar AS Sore Ini, Sentimen Global dan BI-Rate Menjadi Pemicu
Rupiah ditutup melemah tajam ke Rp16.629/USD (23/10/2025) dipicu sentimen perang AS-Ukraina dan potensi perang dagang AS-China, serta keputusan BI menahan suku bunga.
JAKARTA, JClarity – Nilai tukar (kurs) Rupiah ditutup melemah signifikan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan sore ini. Berdasarkan data perdagangan pasar spot, Kamis (23/10/2025), mata uang Garuda terkoreksi 44 poin atau sekitar 0,27% hingga parkir di level Rp16.629 per Dolar AS, dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp16.585 per Dolar AS.
Pelemahan Rupiah ini sejalan dengan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), yang juga mencatat pelemahan ke posisi Rp16.645 per Dolar AS dari sebelumnya Rp16.617 per Dolar AS. Tekanan ini merupakan cerminan dari sentimen eksternal yang kuat dan respons pasar terhadap kebijakan moneter domestik. Mayoritas mata uang Asia juga mengalami koreksi serupa di tengah penguatan Dolar AS.
Analis pasar uang mengidentifikasi dua faktor utama yang menekan pergerakan Rupiah. Secara eksternal, ketidakpastian geopolitik global menjadi sorotan. Sentimen negatif muncul dari pernyataan AS yang mendesak Moskow untuk menyetujui gencatan senjata di Ukraina, serta potensi pembatasan ekspor berbasis perangkat lunak oleh AS ke Tiongkok sebagai balasan atas restriksi ekspor tanah jarang oleh Beijing. Selain itu, sanksi baru dari Inggris dan Uni Eropa terhadap Rusia juga menambah daftar faktor yang memicu penghindaran risiko (risk-off) oleh investor global.
Sementara dari sisi domestik, keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Oktober 2025 dinilai berdampak pada pasar obligasi. Analis menyebutkan bahwa keputusan BI ini memicu tren jual obligasi negara oleh pelaku pasar asing. Di sisi lain, beberapa pandangan pasar juga dipengaruhi oleh ekspektasi potensi pemangkasan suku bunga oleh BI di masa mendatang, yang secara teoritis dapat menekan nilai tukar mata uang lokal.
Pelemahan Rupiah ini terjadi meskipun mata uang utama negara maju bergerak bervariasi. Para pelaku pasar kini memfokuskan perhatian pada rilis data inflasi AS yang akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat Dolar AS lebih lanjut, yang berpotensi memberikan tekanan lanjutan pada Rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya.