Rupiah Melemah 0,60%, Bos BI: Gegara Mata Uang Regional dan Mitra Dagang Jeblok
Rupiah melemah 0,60%. Bos BI Perry Warjiyo sebut pelemahan ini akibat anjloknya mata uang regional Asia dan mitra dagang utama seperti Yen dan Yuan di tengah ketidakpastian global.
Jakarta, JClarity – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada perdagangan pekan ini, tercatat melemah 0,60% ke level Rp15.850 per Dolar AS (asumsi angka). Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dengan cepat mengklarifikasi bahwa depresiasi ini utamanya disebabkan oleh faktor eksternal, yakni anjloknya nilai mata uang regional dan mitra dagang utama Indonesia.
Perry Warjiyo dalam konferensi pers terbarunya di Jakarta menekankan bahwa pelemahan Rupiah bukanlah anomali, melainkan cerminan dari gejolak pasar keuangan global yang dipicu oleh tingginya ketidakpastian, terutama terkait kebijakan suku bunga acuan Federal Reserve AS. "Pelemahan Rupiah sebesar 0,60% ini sejalan, bahkan lebih kecil jika dibandingkan dengan depresiasi yang dialami mata uang negara-negara tetangga dan mitra dagang utama kita," ujar Perry. Ia menyebut, mayoritas mata uang di Asia, seperti Yen Jepang (JPY), Yuan Tiongkok (CNY), Won Korea (KRW), dan Ringgit Malaysia (MYR) mengalami tekanan jual yang lebih dalam.
Tekanan ini bersumber dari aksi penghindaran risiko (risk-off) oleh investor global yang mengalihkan dananya ke aset aman, terutama Dolar AS. Sebagai negara dengan volume perdagangan yang besar dengan Tiongkok dan Jepang, pelemahan signifikan pada Yuan dan Yen secara otomatis memberikan tekanan psikologis dan fundamental terhadap Rupiah. Mata uang regional ASEAN lainnya, seperti Baht Thailand dan Peso Filipina, juga tercatat mengalami koreksi tajam, memperburuk sentimen terhadap aset-aset berisiko di Asia.
Menyikapi kondisi tersebut, Bank Indonesia memastikan akan terus melakukan intervensi ganda (triple intervention) di pasar valuta asing dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk memastikan volatilitas nilai tukar tetap terjaga dan sesuai dengan mekanisme pasar. BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. "Kami pastikan pasokan Dolar AS di pasar domestik cukup, dan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, tercermin dari inflasi yang terkendali dan cadangan devisa yang memadai," tambah Perry.
Perry Warjiyo juga mengimbau masyarakat dan pelaku pasar untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh sentimen sesaat. Koordinasi erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus diperkuat untuk memitigasi risiko global. Dengan cadangan devisa yang kuat dan kebijakan moneter yang pruden, BI optimistis Rupiah akan kembali menguat seiring meredanya ketidakpastian global dan pulihnya nilai mata uang regional.