Keuangan

Rupiah Makin Perkasa, Dolar Tertekan Saat Mata Uang Asia Kompak Naik.

Rupiah menguat tajam terhadap Dolar AS di tengah pelemahan indeks Dolar AS (DXY) dan kenaikan kompak mata uang Asia didorong ekspektasi The Fed pangkas suku bunga.

JAKARTA · Sunday, 30 November 2025 03:00 WITA · Dibaca: 26
Rupiah Makin Perkasa, Dolar Tertekan Saat Mata Uang Asia Kompak Naik.

JAKARTA, JClarity – Nilai tukar Rupiah melanjutkan tren penguatan signifikan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan perdagangan ini, seiring dengan tekanan yang melanda mata uang greenback dan kenaikan kompak mata uang utama di kawasan Asia. Penguatan Rupiah didorong oleh sentimen global yang makin optimistis terhadap prospek pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Pergerakan Rupiah di pasar spot selama sepekan perdagangan ini menunjukkan apresiasi yang berkelanjutan. Berdasarkan data terkini, Rupiah berhasil mencatatkan penguatan di tengah pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur posisi greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat melemah, bahkan sempat melorot ke level di bawah 100, menuju penurunan mingguan terbesarnya dalam empat bulan terakhir.

Kondisi ini tidak terlepas dari meningkatnya ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mengadopsi sikap yang lebih dovish. Probabilitas penurunan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan Desember mendatang telah meningkat drastis. Komentar dari sejumlah pejabat The Fed, seperti Gubernur Federal Reserve New York John Williams, yang menyatakan adanya ruang untuk penyesuaian suku bunga acuan menuju posisi netral, turut memperkuat optimisme pasar tersebut. Selain itu, spekulasi mengenai kandidat Ketua The Fed yang baru, yang dianggap akan cenderung mendukung pemotongan suku bunga secara lebih agresif, juga menjadi katalis negatif bagi Dolar AS.

Di kawasan Asia, tren penguatan tidak hanya dinikmati oleh Rupiah. Sebagian besar mata uang Asia kompak menanjak terhadap Dolar AS, memanfaatkan perlambatan laju greenback. Dolar Singapura (SGD) tampil sebagai mata uang paling perkasa di Asia pekan ini, melompat 0,79%, disusul oleh Baht Thailand (THB) yang mencatat reli kuat sebesar 0,77%. Won Korea Selatan (KRW), Ringgit Malaysia (MYR), dan Yen Jepang (JPY) juga turut mencatatkan apresiasi yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Hanya Dolar Taiwan (TWD) yang tercatat terkoreksi tipis, menjadikannya pengecualian di tengah euforia penguatan mata uang Asia.

Secara domestik, optimisme terhadap fundamental ekonomi Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan Rupiah. Harapan Pemerintah akan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV tahun 2025 yang diperkirakan berada di atas 5%, didukung oleh stimulus fiskal, turut memperkuat sentimen konstruktif di pasar keuangan. Arus masuk modal investor asing (inflow) ke pasar saham dan obligasi Indonesia juga terlihat deras, didorong oleh valuasi aset-aset yang dinilai menarik di tengah prospek kebijakan moneter global yang lebih longgar.

Login IG