Rupiah Lunglai ke Rp16.736 per Dolar AS Sore Ini.
Rupiah melemah signifikan, ditutup Rp16.736 per Dolar AS (17/11/2025) dan berlanjut tertekan. Faktor utama: prospek suku bunga The Fed dan antisipasi kebijakan BI.
JAKARTA, JClarity – Nilai tukar (kurs) rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), ditutup 'lunglai' pada posisi Rp16.736 per dolar AS pada penutupan perdagangan pasar spot pada Senin, 17 November 2025, sore. Angka ini mencerminkan penurunan sebesar 29 poin atau minus 0,17 persen dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya, di mana rupiah berada di level Rp16.707 per dolar AS.
Tren pelemahan mata uang Garuda ini bahkan berlanjut pada perdagangan hari berikutnya, Selasa (18/11/2025). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah kembali tertekan, ditutup di posisi Rp16.735 per dolar AS, level penutupan terendah sejak 26 September 2025. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) juga mencatat pelemahan, menempatkan rupiah pada level Rp16.760 per dolar AS.
Analis pasar uang menilai, tekanan terhadap rupiah sebagian besar dipicu oleh sentimen eksternal (global sentiment) yang dominan. Faktor utama adalah menurunnya prospek pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Sejumlah pejabat The Fed menyuarakan kekhawatiran bahwa inflasi masih tetap tinggi, ditambah dengan kondisi pasar tenaga kerja AS yang dinilai masih cukup kuat, yang semakin meyakinkan pelaku pasar bahwa The Fed tidak akan melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Selain sentimen The Fed, pelemahan rupiah juga sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga terkoreksi terhadap dolar AS, seperti ringgit Malaysia dan won Korea Selatan. Penguatan dolar AS yang dipengaruhi oleh ketidakpastian global turut mendorong investor untuk memindahkan modalnya ke aset safe haven, yang kian menekan pergerakan mata uang negara-negara berkembang.
Di sisi domestik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 18-19 November 2025. Pelaku pasar menantikan keputusan BI terkait arah suku bunga acuan. Beberapa analis mencatat adanya antisipasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh BI, sebuah langkah yang dapat berlawanan dengan kebijakan ketat The Fed dan berpotensi meningkatkan tekanan pada nilai tukar. Meskipun demikian, Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar.