Rupiah Loncat Tinggi ke Rp16.648 per Dolar AS, Respons Pemotongan Bunga The Fed Hari Ini
Rupiah menguat tajam ke Rp16.648 per Dolar AS hari ini merespons pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 bps. Ini pendorong aliran modal asing ke Indonesia.
Jakarta, JClarity – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan signifikan pada pembukaan perdagangan hari ini, Kamis (11/12/2025), sebagai respons langsung terhadap keputusan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang memangkas suku bunga acuannya. Rupiah tercatat sempat menyentuh level penguatan di posisi Rp16.648 per Dolar AS, bergerak naik dari penutupan perdagangan sebelumnya di Rp16.680 per Dolar AS.
Penguatan tajam ini terjadi setelah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Fed memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan (Federal Funds Rate/FFR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi kisaran 3,50%-3,75%. Keputusan yang diumumkan pada Rabu malam waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia ini merupakan pemangkasan suku bunga ketiga sepanjang tahun 2025.
Langkah pelonggaran moneter The Fed ini dipandang pasar sebagai katalis positif yang sangat dibutuhkan oleh mata uang negara-negara berkembang (emerging market), termasuk Rupiah. Secara fundamental, penurunan suku bunga The Fed menyebabkan imbal hasil (yield) aset-aset berdenominasi Dolar AS menjadi kurang menarik bagi investor global.
Para analis pasar menilai bahwa kondisi ini secara otomatis mendorong pergeseran aliran modal asing (capital inflow) kembali ke pasar domestik Indonesia, terutama ke pasar obligasi dan saham, dalam rangka mencari return yang lebih tinggi. Masuknya dana asing ini mengurangi tekanan jual terhadap Rupiah dan menjadi faktor kunci yang menopang penguatan nilai tukar.
Meskipun demikian, sinyal yang diberikan oleh Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam konferensi pers menekankan adanya kehati-hatian (hawkish) dalam kebijakan moneter lanjutan, bahkan mengindikasikan bahwa standar untuk pelonggaran tambahan sangat tinggi. Beberapa anggota FOMC bahkan terbelah dalam pandangan, dengan tiga suara menentang keputusan pemotongan tersebut. Pasar kini akan mencermati apakah penguatan Rupiah ini akan bersifat temporer atau dapat berlanjut, tergantung pada data ekonomi AS ke depan serta sinyal kebijakan The Fed di pertemuan mendatang.