Rupiah Keok Tembus Rp 16.636 per Dolar AS, Tertekan Lanjutan 'Shutdown' Pemerintahan AS
Rupiah anjlok tajam hari ini, menembus Rp 16.636 per Dolar AS, tertekan kuat oleh sentimen 'risk-off' global yang dipicu oleh 'shutdown' pemerintahan AS yang berkepanjangan.
Jakarta, JClarity – Nilai tukar Rupiah menunjukkan pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan hari ini, menembus level psikologis Rp 16.600 per Dolar AS. Berdasarkan data kurs referensi pasar, Rupiah tercatat berada di posisi Rp 16.636, jauh lebih lemah dari penutupan sebelumnya, sekaligus mencatatkan salah satu level terendah dalam sejarah mata uang domestik.
Tekanan masif terhadap Rupiah ini didominasi oleh sentimen negatif global yang dipicu oleh berlanjutnya ketidakpastian politik di Amerika Serikat, khususnya terkait 'shutdown' atau penutupan sementara operasional pemerintahan federal AS. Kegagalan Kongres AS untuk mencapai kesepakatan anggaran membuat investor global menarik modal mereka dari aset berisiko (risk-off) seperti mata uang negara berkembang (Emerging Market/EM) dan beralih ke aset 'safe-haven', terutama Dolar AS dan obligasi Pemerintah AS.
Ekonom senior dari J-Clarity Research Institute, Dr. Aris Subagyo, menyatakan bahwa 'shutdown' AS kali ini memiliki dampak yang lebih serius karena terjadi di tengah kenaikan suku bunga global yang persisten. "Peningkatan permintaan terhadap Dolar AS sebagai aset 'safe-haven' diperparah oleh likuiditas yang mengetat. Investor asing cenderung melakukan repatriasi modal secara cepat, yang langsung menghantam Rupiah. Angka Rp 16.636 ini bukan hanya pelemahan teknikal, namun merupakan cerminan krisis kepercayaan pasar terhadap stabilitas politik ekonomi terbesar dunia," ujar Dr. Aris.
Bank Indonesia (BI) diperkirakan telah melakukan intervensi ganda (double intervention), baik di pasar spot maupun pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), untuk menahan laju pelemahan Rupiah yang terlalu cepat. Meskipun intervensi ini mampu meredam volatilitas sesaat, sentimen pasar secara keseluruhan masih menunggu adanya titik terang dari Washington D.C. sebelum kembali berani masuk ke pasar EM.
Para pelaku pasar berharap resolusi cepat dapat dicapai oleh para legislator AS. Jika 'shutdown' berlarut-larut hingga minggu depan, Rupiah berpotensi menguji level pelemahan baru di atas Rp 16.700. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan juga diimbau untuk menyiapkan skenario mitigasi fiskal, khususnya terkait beban pembayaran utang luar negeri yang semakin membengkak akibat depresiasi Rupiah.