Keuangan

Rupiah Jatuh ke Rp16.728 per Dolar AS, Antisipasi Suku Bunga BI Turun.

Rupiah melemah tajam ke Rp16.728 per Dolar AS. Sentimen pasar dipicu oleh antisipasi pemangkasan suku bunga BI di tengah tekanan Dolar AS global.

Jakarta · Friday, 14 November 2025 19:00 WITA · Dibaca: 47
Rupiah Jatuh ke Rp16.728 per Dolar AS, Antisipasi Suku Bunga BI Turun.

JAKARTA, JClarity – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan signifikan pada perdagangan hari ini, menembus level psikologis baru Rp16.728 per Dolar AS. Pelemahan tajam ini dipicu oleh sentimen pasar yang kuat mengenai potensi pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), di tengah kondisi penguatan Dolar AS secara global.

Berdasarkan data pasar spot antarbank, Rupiah dibuka di level Rp16.650 dan terus tergerus sepanjang sesi, hingga mencapai titik terendah Rp16.728. Pelemahan ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi penurunan interest rate differential (selisih suku bunga) antara Indonesia dan Amerika Serikat. Jika BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga di tengah The Fed yang masih mempertahankan kebijakan ketatnya, aset-aset berdenominasi Rupiah akan menjadi kurang menarik, yang berujung pada potensi arus modal keluar atau capital outflow.

Para analis memandang bahwa ekspektasi penurunan BI Rate muncul setelah data inflasi domestik menunjukkan tren melambat dan berada dalam target sasaran bank sentral. Selain itu, upaya untuk menopang pertumbuhan ekonomi domestik (PDB) yang mulai menunjukkan sinyal perlambatan turut menjadi pertimbangan utama. BI selama periode sebelumnya secara konsisten menahan atau bahkan menaikkan suku bunga demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari gejolak global.

Kepala Ekonom JClarity Research, Anindita Kusuma, menyatakan, “Level Rp16.700 adalah batas psikologis yang perlu dicermati. Pelemahan Rupiah saat ini adalah pre-emptive move pasar. Mereka melakukan pricing-in terhadap kemungkinan BI melonggarkan kebijakan moneter untuk mengimbangi tekanan dari sisi pertumbuhan. Selain itu, penguatan Indeks Dolar AS (DXY) di atas 106 setelah data tenaga kerja AS yang solid turut menambah tekanan eksternal.”

Bank Indonesia diperkirakan akan menghadapi dilema kebijakan moneter yang pelik dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk menopang pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain, stabilitas nilai tukar Rupiah tetap menjadi prioritas utama. Pasar saat ini menanti sinyal tegas dari Gubernur BI mengenai arah kebijakan ke depan. Intervensi ganda di pasar valuta asing dan Surat Berharga Negara (SBN) diperkirakan akan ditingkatkan untuk meredam volatilitas jangka pendek.

Login IG