RI Inflasi 2,65 Persen pada September 2025 Imbas Harga Cabai dan Emas
BPS mencatat inflasi Indonesia September 2025 mencapai 2,65% (yoy), didorong oleh kenaikan harga cabai merah akibat penurunan produksi dan lonjakan harga emas perhiasan global.
JAKARTA, JClarity – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tingkat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Indonesia pada September 2025 mencapai 2,65 persen. Angka ini mengalami akselerasi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya dan dipicu oleh kenaikan harga komoditas pangan bergejolak, terutama cabai merah, serta lonjakan harga emas perhiasan.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/10/2025), menjelaskan bahwa secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi September 2025 tercatat sebesar 0,21 persen, berbalik arah setelah sempat deflasi pada Agustus. Secara tahunan, inflasi 2,65 persen tersebut masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) yang ditetapkan oleh pemerintah.
Kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau, dengan inflasi sebesar 0,38 persen. Komoditas penyumbang inflasi utama dari kelompok ini adalah cabai merah dan daging ayam ras, masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,13 persen secara bulanan. Kenaikan harga cabai merah dipicu oleh menurunnya produksi yang bahkan tercatat sebagai yang terendah sepanjang tahun, menurut sistem peringatan dini Kementerian Pertanian.
Selain komoditas pangan, komoditas emas perhiasan juga menjadi penyumbang signifikan, terutama untuk inflasi komponen inti. Emas perhiasan tercatat menyumbang andil inflasi bulanan sebesar 0,08 persen dan menjadi penyumbang utama inflasi tahunan. Menurut BPS, kenaikan harga emas perhiasan ini sejalan dengan tren kenaikan harga emas global yang terus berlanjut, bahkan mencatatkan rekor baru pada September 2025. Fenomena ini juga menandai inflasi pada emas perhiasan selama 25 bulan berturut-turut sejak September 2023.
Secara rinci, BPS membagi inflasi September ke dalam tiga komponen: komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 0,52 persen; komponen inti mencatat inflasi sebesar 0,18 persen; dan komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi sebesar 0,06 persen. Meskipun demikian, terdapat pula sejumlah komoditas yang menahan laju inflasi dengan memberikan andil deflasi, seperti bawang merah dan cabai rawit.