Keuangan

Ramai-Ramai Warga RI Tarik Deposito & Balik ke Tabungan, Ada Apa?

BI mencatat warga RI ramai-ramai tarik dana dari deposito, balik ke tabungan menjelang akhir 2025. Pertumbuhan deposito individu minus, dipicu kebutuhan likuiditas, penurunan bunga, dan ketidakpastian global.

JAKARTA · Monday, 24 November 2025 14:00 WITA · Dibaca: 25
Ramai-Ramai Warga RI Tarik Deposito & Balik ke Tabungan, Ada Apa?

JAKARTA, JClarity – Fenomena pergeseran dana secara masif dari instrumen simpanan berjangka atau deposito ke rekening tabungan biasa tengah menjadi sorotan utama di sektor perbankan dan keuangan Indonesia menjelang akhir tahun 2025. Data terbaru Bank Indonesia (BI) mengindikasikan adanya perubahan preferensi likuiditas masyarakat dan korporasi, yang kini cenderung memilih instrumen yang lebih fleksibel dan dapat ditarik sewaktu-waktu.

Laporan Analisis Uang Beredar BI per Oktober 2025 mencatat, meskipun total Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan masih tumbuh, namun terjadi kontraksi signifikan pada komposisi simpanan. Posisi tabungan mengalami penguatan pertumbuhan tahunan (year-on-year/yoy) dari 6,4% menjadi 7,2% pada Oktober 2025, mencapai nominal Rp 2.996,6 triliun. Sebaliknya, simpanan berjangka atau deposito menunjukkan perlambatan tajam, dengan pertumbuhan tahunan melorot dari 5,9% menjadi hanya 4,9% (yoy). Bahkan, secara nominal, total deposito mengalami penurunan tipis dari Rp 3.304,5 triliun pada September menjadi Rp 3.292,5 triliun pada Oktober 2025.

Perlambatan ini semakin mengkhawatirkan pada segmen individu. Data BI menunjukkan bahwa pertumbuhan deposito perorangan kembali tertekan di angka minus 2,7% (yoy), menguatkan sinyal bahwa rumah tangga Indonesia secara aktif mengurangi penempatan dananya pada instrumen deposito. Pola ini mencerminkan peningkatan preferensi likuiditas masyarakat, seiring dengan kebutuhan kas yang lebih tinggi menjelang musim belanja dan liburan akhir tahun, serta adanya potensi dana yang dialihkan ke instrumen investasi lain.

Sejumlah analis dan praktisi perbankan sepakat bahwa tren penurunan suku bunga deposito menjadi salah satu faktor pendorong utama. Likuiditas perbankan yang dianggap masih longgar, ditambah dengan suku bunga acuan BI yang cenderung stabil atau mengalami penurunan moderat sepanjang tahun 2025, membuat bank tidak terdorong untuk bersaing agresif dalam menawarkan bunga deposito tinggi. Akibatnya, deposito menjadi kurang menarik dibandingkan periode sebelumnya.

Selain faktor suku bunga dan likuiditas akhir tahun, meningkatnya ketidakpastian ekonomi global juga turut memengaruhi perilaku simpanan. Masyarakat dan korporasi kini cenderung enggan mengunci dananya dalam tenor panjang, memilih tabungan sebagai ‘dana darurat’ yang lebih fleksibel. Selain itu, muncul pula indikasi bahwa sebagian dana dari kelompok nasabah menengah atas dialihkan ke aset lindung nilai (hedge assets), seperti emas batangan dan aset digital (stablecoin), sebagai respons terhadap tren kenaikan harga emas dunia dan upaya diversifikasi portofolio.

Meskipun demikian, peningkatan tajam pada pertumbuhan tabungan, terutama didukung oleh lonjakan dana dari kelompok korporasi yang mencapai 24,8% (yoy), menunjukkan bahwa likuiditas di pasar masih melimpah. Pergeseran komposisi ini menjadi sinyal penting bagi perbankan untuk lebih fokus pada peningkatan dana murah (Current Account Savings Account/CASA), serta bagi otoritas keuangan untuk memantau aliran dana masyarakat di tengah dinamika ekonomi domestik dan global.

Login IG