**Radiasi Nuklir Digunakan untuk Kendalikan Hama Lalat Buah Salak Pondoh**
JClarity.com melaporkan inovasi pengendalian hama lalat buah Salak Pondoh menggunakan Teknik Serangga Mandul (TSM) berbasis radiasi nuklir oleh BRIN untuk meningkatkan kualitas ekspor buah.
SLEMAN, JClarity – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menegaskan komitmennya dalam memanfaatkan teknologi nuklir untuk sektor pertanian, khususnya pengendalian hama. Inovasi Teknik Serangga Mandul (TSM), yang memanfaatkan radiasi nuklir, kini diaplikasikan secara intensif untuk mengatasi ancaman lalat buah pada komoditas unggulan nasional, Salak Pondoh. Program ini menjadi solusi ramah lingkungan yang berpotensi signifikan dalam meningkatkan kualitas dan daya saing ekspor buah tropis Indonesia.
Lalat buah, terutama dari spesies Bactrocera spp., merupakan salah satu hama utama yang menyebabkan kerugian besar pada perkebunan Salak Pondoh, khususnya di sentra produksi seperti Sleman, Yogyakarta. Serangan hama ini tidak hanya merusak tekstur dan rasa buah, tetapi juga menyebabkan buah tidak lolos standar fitosanitasi internasional, yang berujung pada penolakan ekspor. TSM hadir sebagai alternatif berkelanjutan untuk menggantikan penggunaan pestisida kimia yang berisiko terhadap kesehatan dan lingkungan.
Teknik Serangga Mandul (TSM), atau secara global dikenal sebagai Sterile Insect Technique (SIT), bekerja dengan cara memproduksi lalat buah jantan secara massal di laboratorium. Lalat-lalat jantan ini kemudian disterilkan menggunakan paparan radiasi sinar gamma dosis rendah. Radiasi tersebut efektif membuat lalat jantan mandul tanpa mengurangi kemampuan kawinnya. Setelah disterilkan, jutaan lalat jantan dilepaskan secara berkala ke area perkebunan yang terinfeksi.
Tujuan utama pelepasan lalat jantan steril adalah untuk mengawinkan mereka dengan lalat betina liar di alam. Perkawinan ini tidak akan menghasilkan keturunan yang layak, sehingga secara bertahap, populasi lalat buah liar akan menurun drastis. Berdasarkan data dari BRIN, penerapan TSM di area uji coba telah menunjukkan efektivitas yang menjanjikan dalam menekan populasi hama, bahkan berpotensi mencapai eradikasi lokal jika implementasi dilakukan secara konsisten dan terintegrasi dengan metode pengendalian hama terpadu (PHT) lainnya.
Peneliti BRIN menekankan bahwa keberhasilan program TSM Salak Pondoh memerlukan dukungan sinergis antara ilmuwan, petani, dan pemerintah daerah. Selain itu, program ini juga berfungsi sebagai model bagi pengembangan dan penerapan TSM pada komoditas hortikultura lainnya di seluruh nusantara. Pemanfaatan teknologi nuklir yang aman dan terukur ini tidak hanya menjamin kualitas hasil panen yang lebih baik dan bebas residu, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia dalam inovasi pertanian global.