Keuangan

Purbaya: Negara Bayar Bunga 6 Persen untuk Uang yang Tak Dipakai

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap negara bayar bunga hingga 6% atas Rp653,4 T dana pemerintah yang menganggur di bank. Dorong percepatan belanja & realokasi.

JAKARTA · Friday, 07 November 2025 21:00 WITA · Dibaca: 48
Purbaya: Negara Bayar Bunga 6 Persen untuk Uang yang Tak Dipakai

JAKARTA, JClarity – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti ironi dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), di mana pemerintah terpaksa menanggung beban bunga hingga 6 persen untuk dana publik yang menganggur dan belum terbelanjakan di perbankan. Pernyataan tegas ini disampaikan Purbaya dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Jakarta, Senin (3/11/2025).

Purbaya menekankan bahwa kondisi dana yang mengendap tersebut merugikan keuangan negara dalam dua aspek. “Kan uangnya nganggur. Satu, saya bayar bunga untuk uang yang enggak dipakai. Kedua, ekonomi lagi susah, enggak kedorong,” ujarnya, menggarisbawahi kegagalan dana tersebut dalam memberikan stimulus ekonomi di tengah kebutuhan.

Beban bunga 6 persen itu muncul karena, menurut Menkeu, "setiap rupiah yang kita anggarkan itu pada dasarnya sebagian utang. Mungkin sebagian besar utang, ada komponen utangnya di situ." Oleh karena itu, dana yang tidak segera dimanfaatkan untuk belanja dan pembangunan justru membuat pemerintah membayar bunga utang atas uang yang seharusnya sudah bekerja bagi perekonomian nasional.

Kementerian Keuangan mencatat, per Agustus 2025, total dana pemerintah pusat dan daerah yang masih tersimpan di perbankan mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp653,4 triliun. Jumlah ini terdiri dari simpanan pemerintah pusat sekitar Rp399 triliun dan simpanan pemerintah daerah (Pemda) sebesar Rp254,4 triliun. Mayoritas dana tersebut terdistribusi dalam pos giro dan simpanan berjangka.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Purbaya menyatakan dirinya akan terus "bersafari" dan mendorong kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah untuk mempercepat realisasi belanja anggaran. Ia juga menegaskan komitmennya untuk melakukan evaluasi ketat. “Pertengahan tahun depan kami akan asesmen, ekstrapolasi sampai akhir tahun. Begitu enggak bisa belanjain, di pertengahan tahun sudah kami realokasikan untuk program-program yang lebih cepat, lebih siap, dan lebih bermanfaat bagi perekonomian kita,” pungkasnya, menunjukkan keseriusan dalam mengoptimalkan setiap rupiah anggaran negara.

Login IG