Keuangan

Prospek Pemangkasan Suku Bunga The Fed Desember Menguat, Rupiah Berpeluang Terapresiasi

Prospek pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember 2025 menguat didorong data inflasi AS yang melambat, memberikan peluang besar bagi Rupiah untuk menguat terhadap Dolar AS.

Jakarta · Tuesday, 25 November 2025 11:00 WITA · Dibaca: 28
Prospek Pemangkasan Suku Bunga The Fed Desember Menguat, Rupiah Berpeluang Terapresiasi

JAKARTA, JClarity – Pasar keuangan global menunjukkan keyakinan yang semakin tinggi terhadap potensi pergeseran kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Prospek pemangkasan suku bunga acuan AS pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Desember 2025 kini menguat, menciptakan sentimen positif yang signifikan bagi pergerakan mata uang negara-negara berkembang, termasuk Rupiah Indonesia.

Menguatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga ini didorong oleh serangkaian data ekonomi AS terbaru yang menunjukkan sinyal perlambatan inflasi yang lebih cepat dari perkiraan. Rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti baru-baru ini memperlihatkan tren penurunan yang konsisten, meredakan kekhawatiran bahwa The Fed perlu mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) hingga akhir tahun.

Menurut pantauan dari CME FedWatch Tool, probabilitas pasar terhadap The Fed yang akan mengambil langkah dovish, baik dalam bentuk sinyal jeda yang kuat atau bahkan pemangkasan minor, pada pertemuan Desember mendatang telah meningkat signifikan. Angka probabilitas pemangkasan kini berada di atas 60%, menandakan bahwa mayoritas pelaku pasar telah mengantisipasi The Fed akan bergerak lebih awal dari proyeksi sebelumnya.

Bagi Rupiah, yang selama ini berada di bawah tekanan dominasi Dolar AS akibat perbedaan suku bunga, prospek ini adalah katalis positif utama. Melemahnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS secara langsung mengurangi daya tarik aset berbasis Dolar, sehingga arus modal berpotensi kembali mengalir ke aset-aset berisiko (risk-on) seperti pasar saham dan obligasi Indonesia. Ini akan mendukung apresiasi Rupiah.

Ekonom senior dari JClarity Research, Anindya Kusuma, menilai bahwa jika sentimen ini berlanjut hingga pengumuman FOMC, Rupiah berpotensi menguat dan menguji level resistensi psikologis baru. “Setiap sinyal dovish dari The Fed pada Desember nanti, meski hanya berupa *guidance* yang lunak, dapat mendorong Rupiah menuju level Rp15.400 per Dolar AS, karena tekanan *capital outflow* akan mereda drastis,” ujar Anindya.

Meskipun demikian, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan tetap bersikap hati-hati dan *data-dependent*. BI kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level saat ini hingga kepastian pemangkasan The Fed terkonfirmasi, demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari potensi volatilitas jangka pendek.

Login IG