Keuangan

Pesta IHSG & Rupiah Terancam Bubar Karena Serbuan Data AS & China

Rally IHSG & Rupiah terancam berakhir minggu ini. Fokus investor beralih ke rilis data ketenagakerjaan dan inflasi AS serta PMI manufaktur China yang krusial.

Jakarta · Friday, 07 November 2025 08:00 WITA · Dibaca: 49
Pesta IHSG & Rupiah Terancam Bubar Karena Serbuan Data AS & China

Jakarta, JClarity – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah, yang sempat menikmati sentimen positif dan mencatatkan rekor tertinggi baru, kini berada di ujung tanduk. 'Pesta' penguatan pasar keuangan domestik tersebut terancam bubar menyusul serbuan rilis data-data ekonomi krusial dari Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok (China) yang diperkirakan memicu volatilitas pasar global.

IHSG baru-baru ini berhasil mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah, menembus level 8.337, didorong optimisme membaiknya ekonomi domestik dan peninjauan ulang kuartalan indeks MSCI. Sementara itu, Rupiah juga menunjukkan daya tahan, meski masih dibayangi penguatan Dolar AS.

Ancaman utama datang dari rangkaian data ekonomi AS, terutama yang berkaitan dengan pasar tenaga kerja dan inflasi. Data ketenagakerjaan AS, seperti yang tercermin dari kenaikan ADP Nonfarm Employment Change baru-baru ini, memberikan sinyal ekonomi AS yang kuat. Data yang solid ini kembali memperkuat narasi 'Higher for Longer' dari The Federal Reserve (The Fed), yaitu ekspektasi bahwa suku bunga acuan AS akan dipertahankan tinggi lebih lama.

Sentimen ini memicu kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun yang berada di atas level 4,15 persen, serta menguatkan Indeks Dolar (DXY) di atas level psikologis 100. Penguatan DXY secara langsung membebani Rupiah, memicu pelemahan signifikan.

Di sisi lain, pasar juga disuguhkan "guncangan" dari Tiongkok, mitra dagang terbesar Indonesia. Rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur China yang menunjukkan kontraksi, seperti penurunan ke level 49 dari bulan sebelumnya, menimbulkan kekhawatiran mendalam terhadap perlambatan ekonomi global dan permintaan komoditas. Pelemahan data ekspor dan impor China sangat penting bagi Indonesia, mengingat Tiongkok merupakan pasar utama untuk produk-produk komoditas Tanah Air.

Tim Analis mencatat bahwa meskipun IHSG mencetak rekor, investor asing justru melakukan aksi jual bersih (net sell) dalam jumlah signifikan. Hal ini mengindikasikan kehati-hatian investor terhadap aset berisiko (risk assets) di tengah minimnya sentimen domestik yang kuat, menjadikan arah pasar sangat bergantung pada faktor eksternal. Koreksi pasar yang signifikan di Wall Street baru-baru ini juga menjadi katalis negatif yang menular ke bursa Asia.

Untuk menghadapi "badai" data ini, pelaku pasar disarankan untuk mengamati secara ketat rilis data Inflasi (CPI) dan potensi pengumuman kebijakan dari Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas Rupiah. Volatilitas diprediksi akan meningkat tajam seiring investor menimbang kembali risiko dan peluang di tengah ketidakpastian global.

Login IG