Keuangan

Perbankan Masih Gemar Mengoleksi SRBI di Tengah Seretnya Permintaan Kredit

Perbankan Indonesia meningkatkan kepemilikan SRBI hingga 85,28% di Oktober 2025, menandakan likuiditas berlebih dan permintaan kredit yang lemah, seiring perlambatan kredit 7,36% (YoY).

Jakarta · Wednesday, 26 November 2025 12:00 WITA · Dibaca: 29
Perbankan Masih Gemar Mengoleksi SRBI di Tengah Seretnya Permintaan Kredit

JAKARTA, JClarity – Minat perbankan nasional terhadap instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terus menunjukkan tren peningkatan signifikan, bahkan di tengah likuiditas yang melimpah dan permintaan kredit yang masih belum pulih secara kuat. Fenomena ini mengindikasikan strategi manajemen risiko dan likuiditas yang hati-hati oleh bank, sekaligus mencerminkan keengganan sektor riil untuk melakukan ekspansi agresif.

Data Bank Indonesia (BI) mencatat posisi kepemilikan perbankan atas SRBI terus merangkak naik secara konsisten sejak pertengahan tahun 2025. Per Oktober 2025, porsi kepemilikan bank telah mencapai 85,28% dari total outstanding SRBI yang beredar, meningkat tajam dari 66,86% pada Juni 2025. Kenaikan ini terjadi meskipun total posisi SRBI secara year-to-date telah menurun dari Rp916,97 triliun menjadi Rp699,30 triliun per 17 November 2025.

Kecenderungan perbankan untuk "mengoleksi" SRBI ini berbanding terbalik dengan perlambatan laju penyaluran kredit. Pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober 2025 tercatat melambat menjadi 7,36% (year-on-year/YoY), lebih rendah dari 7,70% pada bulan sebelumnya. Pelambatan ini, menurut BI, dipicu oleh permintaan kredit yang belum kuat, terutama karena pelaku usaha memilih bersikap wait and see terhadap kondisi makroekonomi serta optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi.

Advisor Banking & Finance Development Center, Moch Amin Nurdin, menjelaskan bahwa penempatan dana di SRBI menjadi pilihan logis bagi perbankan. “Idle fund yang mereka miliki ditaruh di SRBI. Risikonya kecil, keuntungannya lumayan. Paling tidak bank bisa berbagi risiko di sana,” ujar Amin. Instrumen SRBI menawarkan opsi yang menarik karena risikonya minimal dan likuiditasnya longgar, menjadikannya tempat yang aman untuk memarkir dana di tengah ketidakpastian.

Dari sisi perbankan, penempatan dana pada surat berharga, termasuk SRBI, merupakan bagian dari strategi manajemen likuiditas. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menegaskan bahwa bank selalu menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dan ekspansi kredit yang sehat. Sementara itu, di sisi suplai, BI mencatat kapasitas pembiayaan bank masih memadai, didukung oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 29,47% pada Oktober 2025, dan masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) yang mencapai Rp2.450,7 triliun.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menekankan bahwa insentif likuiditas, seperti penurunan posisi SRBI oleh BI, tidak secara otomatis akan meningkatkan penyerapan kredit. Dunia usaha, menurut Shinta, membutuhkan kondisi bisnis yang lebih kondusif dan confidence yang lebih kuat untuk meningkatkan permintaan kredit. BI sendiri memprakirakan pertumbuhan kredit 2025 akan berada pada batas bawah kisaran 8%-11% dan akan meningkat lebih kuat pada tahun 2026, seiring dengan upaya berkelanjutan untuk mendorong penyaluran kredit dan memperbaiki struktur suku bunga.

Login IG