Peraih Nobel Peringatkan Pemotongan Dana Federal Bisa Hancurkan Sains AS
Peraih Nobel John Clarke dan David Baker peringatkan pemotongan dana federal bisa hancurkan sains AS, ancam 'brain drain' & dominasi global. #SainsAS #Nobel
JAKARTA, JClarity – Sejumlah penerima Hadiah Nobel terkemuka telah mengeluarkan peringatan keras mengenai dampak pemotongan besar-besaran dana federal Amerika Serikat (AS) terhadap penelitian ilmiah. Para ilmuwan berpendapat bahwa kebijakan tersebut berpotensi menghancurkan posisi AS sebagai pemimpin sains global dan memicu 'arus keluar otak' (brain drain) yang tidak dapat dipulihkan.
Peringatan ini muncul di tengah langkah pemerintahan Presiden Donald Trump yang sejak Januari telah memangkas pendanaan dan mengusulkan pengurangan anggaran secara signifikan untuk lembaga penelitian utama AS, termasuk National Institutes of Health (NIH) dan National Science Foundation (NSF). John Clarke, peraih Nobel Fisika 2025 dari University of California, Berkeley, menyebut pemotongan ini sebagai masalah yang 'sangat serius' dan 'akan melumpuhkan sebagian besar penelitian sains di Amerika Serikat'.
Dr. Clarke, yang baru saja memenangkan hadiah bergengsi atas karyanya di bidang mekanika kuantum, menyatakan bahwa pemotongan dana dapat mengakibatkan 'bencana' jika terus berlanjut. Ia memperkirakan bahwa bahkan jika kebijakan ini berakhir, dibutuhkan waktu satu dekade untuk kembali ke kondisi sebelumnya. Peringatan serupa juga disampaikan peraih Nobel Kimia 2024, David Baker, yang menyoroti bahwa ketidakstabilan dana federal sudah memaksa universitas-universitas di seluruh AS untuk mengurangi penerimaan mahasiswa pascasarjana. Hal ini, menurutnya, mengurangi peluang bagi generasi ilmuwan berikutnya.
Dampak pemotongan anggaran sudah terasa di berbagai sektor. Sejak awal tahun, NIH telah membatalkan lebih dari 2.100 hibah penelitian senilai sekitar $9,5 miliar, termasuk studi penting mengenai penyakit Alzheimer, kanker, dan perubahan iklim. Proposal anggaran juga mencakup pemotongan dukungan NIH sebesar 40% atau $18 miliar, dan pengurangan 57% atau $5 miliar untuk anggaran NSF.
Selain para peraih Nobel, pejabat Nobel di Swedia juga turut menyatakan keprihatinan. Hans Ellegren, Sekretaris Jenderal Royal Swedish Academy of Sciences, yang memberikan Hadiah Nobel untuk Fisika, Kimia, dan Ekonomi, memperingatkan bahwa pemotongan tersebut berisiko membalikkan dominasi AS dalam penelitian yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Thomas Perlmann, Sekretaris Jenderal Komite Hadiah Nobel untuk Kedokteran, secara blak-blakan menyebut AS sebagai 'mesin pendorong sejati penelitian global' dan memperingatkan bahwa jika pemotongan ini berlanjut, AS berisiko kehilangan peran sentralnya, dengan konsekuensi yang berdampak pada penelitian di seluruh dunia.
Peraih Nobel Kimia 2018, Frances Arnold, menambahkan bahwa serangan yang terkoordinasi terhadap universitas-universitas akan mendorong banyak ilmuwan muda berbakat untuk pindah ke Eropa dan Tiongkok. Survei mengindikasikan bahwa 75% ilmuwan Amerika sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan negara tersebut, dengan Tiongkok dan Eropa menawarkan investasi penelitian yang meningkat sebagai alternatif yang menarik. Para peraih Nobel berpendapat bahwa risiko ini bersifat ganda: melemahkan posisi AS dan menciptakan kekosongan kepemimpinan global yang akan dimanfaatkan negara lain untuk maju dalam bidang-bidang strategis seperti bioteknologi, kecerdasan buatan, dan transisi energi.